"Manusia itu punya empat tugas," kata Abah Yoyok, pegiat Dapoer Sastra Tjisaoek, ketika aku bercengkerama dengannya kemarin sore. Langit Jakarta selalu nyaman jika dibuat panggung obrolan, bukan umpatan.
Aku mengira tugas pertama dan selanjutnya berkenaan dengan apa-apa yang ada di rumah semisal mencuci, menyapu, masak, dan sebagainya. Ternyata lebih luas dari itu—meskipun itu juga tugas kita bukan hanya ibu-ibu dan kaum perempuan kan?! Oye...
"Tugas pertama, manusia sebagai makhluk sosial, kedua sebagai makhluk ekonomi, lalu makhluk religius, dan terakhir makhluk kebudayaan."
Dengan santai diselingi canda tawa, sosok penyair humoris ini tak lupa selalu memberi contoh dari setiap pernyataannya. Kalau kelupaan, biasanya aku kejar terus dengan soal-soal yang semoga menggembirakan dengan hasil memuaskan.
"Seperti kita saat ini, ngobrol, menimkati hidangan, bertatap muka. Ini manusia dalam konteks makhluk sosial."
Tiba-tiba saja, aku nyeletuk sambil manggut-manggut, "Seandainya saya tidak menemui Abah sore ini, mungkin saya sekarang sudah ketiduran di rumah. Saya akan menjadi makhluk ketiduran, bukan makhuk sosial. Bahaha..."
Aku mencoba tidak menggenggam ponsel. Kalaupun iya sesekali saja jika getar, selebihnya aku masukkan kantong atau aku letakkan di atas meja. Cukup mengganggu kemesraan wicara. Kecuali saat obrolan memang memerlukan referensi. Seperti saat Abah menyanyikan lagu, aku bilang "Itu lagu di Youtube ada kah?" Abah menginfokan, aku pun membuka gudang digital itu.
Marning jagung menemani obrolan kami. Aku sengaja membawanya sebagai oleh-oleh khas kampung halaman. Bukan berarti jajanan kota kalah baik, hanya untuk menyelaraskan rasa saja.
Kami sepakat, tak seyogyanya manusia fokus dalam satu tugas kemanusiaannya, harus seimbang keempat tugas tersebut. Manusia jika hanya sujud di masjid dia akan kehilangan tiga tugas lainnya, begitu pula jika manusia hanya menumpuk harta ekonomi seharian, ruhnya akan kosong dari sentuhan makhluk sosial. Kebudayaan juga penting menyelimuti kehidupan manusia, agar semua hal tidak kering dari akal budi dan seni.
Kutipan luhur beliau di atas lahir dari sebuah pertanyaan nakalku, "Apakah aku kelak akan menjadi penulis, guru, entrepreneur, atau yang lain?"
Lalu beliau memberi jawaban itu. Yang jika dimaknai dengan kata lain, "Bebas kau mau jadi apa saja, asal tidak melupakan empat tugas manusia dalam kehidupan. Itulah yang dikehendaki Allah bahwa kita sebagai khalifah-Nya di muka bumi".