Kelopak mata Nanda perlahan terbuka, hal pertama yang ia ingat adalah handphonenya. Remaja zaman sekarang mana ada yang bisa jauh dari gadged tersebut. Diceknya lah segala notification yang tertera di samsung galaxynya. 32 messages, 10 miscall and other.
Tetapi jarang sekali Nanda mendapatkan notification sebanyak itu, satu persatu pun dibukanya, ternyata didalamnya terdapat banyak pemberitahuan dari seorang guru tentang tugas yang harus diselesaikan.
Seperti tak menerima, padahal Nanda sudah mengerjakan dan mengumpulkan tugas tersebut tetapi mengapa masih saja dianggap belum mengumpulkan tugas? Rasa kesal mulai menjalar, berniat membalas pesan singkat tersebut dengan untaian kata yang pantas dikirimkan kepada seorang guru.
...Send
*waiting
Off again. Tak ada sinyal disini, pagi di hari ini membuat Nanda semakin semerawut. Kacau sudah satu hari rasanya jika pagi hari di sambut oleh masalah sinyal.
“ Tuhaaan... tolonglah, jika aku tak mengirimkan tugas ini tamatlah riwayatku... “, teriaknya dalam hati, dengan wajah memelas pada diri sendiri.
Indonesia merupakan negara yang luas, dan jangkauannya pun bisa kemana-mana. Tapi mengapa di daerah perkotaan seperti ini yang mengalami krisis sinyal? Nanda tinggal di suatu tempat di daerah Tangerang, perkotaan bukan?
Kota milenium yang dekat dengan Ibu Kota Negara seharusnya mendapatkan percikan sinyal dari Jakarta. Meskipun tak setiap saat, namun sungguh sakit ketika dibutuhkan sinyal itu pergi entah kemana.
Nanda berdiam sejenak, memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan agar semuanya menjadi beres dan tidak ada kontra lagi dengan sinyal didalam kamarnya.
“ Kalau sinyal tak ingin datang kekamarku, kenapa aku tidak mencari atau mendatangi sinyal saja? “