Jingga malam ini aku menyapamu kembali. Aku ingin menulis tapi aku tidak tahu harus menulis apa. Sepertinya otakku tak mampu diajak untuk bermain kata tetapi hati berkeras ingin menulis.Â
Kenapa aku tidak menulis dan bercerita padamu saja. Bukankah tak terlalu perlu diksi dan alur cerita yang mesti aku kembangkan, agar pembaca tak bosan untuk membacanya.Setidaknya bercerita denganmu  sesuai dengan bahasa yang aku gunakanÂ
Sepertinya lelah hari ini tidaklah membuat aku bisa tertidur pulas, hingga ingin menyapa. Aku ingin bercerita padamu tentang panggilan "Bunda" yang mereka sematkan sewaktu berada di grup grup kepenulisan hingga sekarang.
Padahal boleh dikata usia mereka seusia adikku. Baik di dunia nyata mau pun dunia maya, bahkan ada yang memanggil dengan sebutan "Kakak bunda".Â
Terkadang aku tersenyum sendiri kalau mengingat itu semua tapi disisi  lain aku senang dengan panggilan bunda. Merasa nyaman dengan panggilan bunda, dengan panggilan tersebut mereka menempat aku sebagai ibu mereka.Â
Walau dunia menulis dan grup grup yang bergerak tentang kepenulisan telah aku tinggalkan. Namun setiap perjumpaan atau  saat mereka menyapa lewat WA panggilan itu tetap ada dan sepertinya tidak  akan pernah hilang
Bahkan mereka menyematkan diri mereka sebagai anak anak sisi rahim. Banyak yang bertanya apa maksud dari kalimat "Anak anak sisi rahim". Anak anak yang bukan terlahir dari rahim namun mereka memanggilku dengan sebutan bunda.
Jingga, hampir lima tahun meninggalkan dunia menulis, hingga waktu yang kosong aku pergunakan untuk mencoba menjahit, setidaknya dulu pernah belajar.Â
Ternyata merambah ke dunia menjahit tidak mengubah  dan tak ada bedanya tetap di sapa bunda. Lagi lagi aku menikmati panggilan itu, setidaknya mereka ada rasa sungkan dan menghormati. Catat yang Jingga bukan aku gila untuk di hormati.
Pernah ada yang menanyakan
" Mbak, kok mau sih dipanggil bunda, padahal usia tak terlalu beda jauh, yah seperti kakak adek. "