Ada yang menarik di balik semua keriuhan pandemi ini. Dan ini pasti dialami semua lembaga baik pemerintahan maupun swasta. Apapun itu. Tidak ada yang siap ini (pandemi covid-19) akan datang.Â
Negara manapun bahkan. Nobody's expect! Tidak ada. Semua kewalahan, semua kacau. Langkah awal yang sampai saat ini tepat, dan kita sangat bersyukur keputusan ini dibuat sebenarnya. Sekolah lockdown.Â
Sebelum gelombang penularan itu menghantam semua orang. Saya menyebutnya "Operation Save the children first" ya ini operasi penting. Dan saya tidak bisa membayangkan kalau saat itu sekolah terlambat sedikit saja untuk di tutup.
Kesehatan itu utama. Ini yang selalu diingatkan Menteri Pendidikan kita Nadiem Makarim. Di balik segala yang kontroversialnya. Hendaknya kita sebagai orang tua dapat mengambil hikmah dari semua ini.Â
Memang tidak semua orang senang dengan keputusan-keputusan yang dibuat pemerintah. Kita rakyat hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik untuk menjaga kesehatan dan kewarasan yang tersisa. Tidak ada gunanya marah, emosional, nyinyir dalam menyikapi hal ini.
Saat ini yang bisa kita lakukan adalah berusaha dan berdo'a dan sabar. Saya berani bertaruh tidak ada satupun Negara di dunia yang punya panduan menghadapi pandemi covid-19 ini.Â
Tidak ada. Semua warga dunia kewalahan. Memang dalam sejarah sudah pernah terjadi wabah penyakit. Bahkan jauh lebih mematikan daripada corona virus ini.
Hari ini ada tiga krisis yang kita hadapi bersama. Yang dua kita semua sudah tahu. Yaitu krisis kesehatan, dan krisis ekonomi. Satu lagi yang kita tidak sadari yaitu: krisis pembelajaran.Â
Saat ini anak-anak kita sedang mengalaminya. Bagaimana tidak? Dengan diterapkannya pembelajaran jarak jauh ini, bahkan tanpa adanya covid pun, dunia pendidikan kita memang sedang krisis.Â
Dan ini banyak dari kita tidak menyadari ini. Dan setelah saya pikir, wow betapa tidak mudahnya menjadi orang di pemerintahan. Khususnya karena disini kita membicarakan pendidikan, adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Betapa beratnya menjadi Beliau yang menjadi Menteri terkait.
Dan orang-orang di media sosial dengan gampangnya nyinyir bahkan sampai merendahkan. Apa ini wajah pendidikan kita? Sudah jelas dan sedih tapi ini kenyataannya.Â