Mohon tunggu...
Arumdia PrahmanaMandri
Arumdia PrahmanaMandri Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Siber Asia

Suka nyanyi tapi bukan penyayi

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Media Sosial dan Tren Mental Health Remaja di Indonesia

24 Mei 2022   20:04 Diperbarui: 24 Mei 2022   20:22 344
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di era digital pada saat ini, penggunaan internet adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, berlebihan menggunakan internet yang tidak sehat khususnya sosial media dapat mengganggu kesehatan mental, gangguan mental ini dapat berupa depresi, gangguan tidur, kecemasan, rendahnya self esteem, dan lainnya. Belakangan ini, gangguan mental sering kali dihubungkan dengan media social. Penggunaan yang berlebihan dalam social media menjadi perhatian para orang tua, peneliti, dan masyarakat. Media social menjadi bentuk komunikasi primer yang menyajikan berbagai macam bentuk platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan sebagainya.

Kesehatan mental atau mental health adalah salah satu masalah yang mulai merebak di lingkungan masyarakat terutama kalangan anak muda. Meningkatnya penggunaan media social sudah mempengaruhi cara berpikir kita terhadap teman, kenalan bahkan orang asing. Kehadiran social media dalam ruang lingkup teknologi membuat jaringan social tersebut menjadi membesar dan berbeda dibandingkan sebelumnya.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, media social tidak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja. Di satu sisi dengan adanya social media dapat membantu remaja mengembangkan keterampilan, berteman, berkomunikasi, sharing pemikiran dan ide. Namun di sisi lain, ada dampak negatif dari social media bagi remaja termasuk resiko penyakit mental.

 

Bagaimana social media dapat mempengarui kesehatan mental?

Penggunaan social media yang kurang bijak bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental remaja. Saat ini social media sering kali dikaitkan sebagai salah satu faktero resiko gangguan kecemasan dan depresi. Hubungan Antara depresi  dengan social media tidak hanya seputar tekanan social untuk mengikuti dan membagikan berita ter-update.

Pengguna social media cenderung membandingkan dirinya dengan keberhasilan yang dicapai oleh orang lain adalah salah satu penyebab munculnya kondisi kesehatan mental. Ketika melihat postingan teman yang memiliki pasangan baik, pekerjaan bagus, serta gelimang harta, harusnya kita ikut bahagia. Namun sering kali rasa iri yang muncul dapat memicu timbulnya depresi, dengan melihat pencapaian kita tidak sebanding dengan teman-teman kita ini memicu perasaan tidak mampu serta rasa tidak puas.

Selain itu, social media dapat mempermudah cyberbullying dan menciptakan keegoisan yang tidak sehat dan jarak dari teman dan keluarga. Bentuk kejahatan ini berawal dari perilaku merendahkan, menganggap remeh, dan mengintimidasi orang lain melalui dunia maya. Tujuannya agar target mengalami gangguan psikis, model perundungan saat ini justru lebih berbahaya karena dapat dilakukan kapan saja, siapa saja, dan dimana saja.

 

Dampak dari cyberbullying 

Cyberbullying mempunyai dampak yang berbeda dari kejahatan lainnya dan sangat berbahaya, seperti:

  • Perasaan dikucilkan lingkungan, cyberbullying memang biasa terjadi melalui jejaring social atau internet. Akan tetapi orang-orang yang berada di sekitar atau lingkungan korban dapat melihatnya, ditambah lagi berbagai macam komentar jahat yang ditujukan kepada korban. Hal ini tentu saja membuat orang dikehidupan nyata turut menyerang korban.
  • Kesehatan fisik dan mental terganggu, perundungan yang dilakukan secara terus menerus melalui social media dapat mendatangkan stress. Akhirnya timbul perasaan memendam depresi, kehilangan kepercayaan diri, dan rasa cemas dapat mendatangkan gangguan post traumatic stress disorder (PTSD), gangguan ini tidak mengenal usia bahkan efeknya terhadap orang dewasa dapat menstimuli system kekebalan tubuh menjadi terganggu.
  • Depresi dan ingin bunuh diri, korban perundungan kerap merasakan marah, takut, terluka, malu, putus asa, terisolasi, dan tidak berdaya. Jika hal ini dialami berulang dan semakin parah dapat menyebabkan perasaan ingin mengakhiri hidupnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun