Mohon tunggu...
Adjat R. Sudradjat
Adjat R. Sudradjat Mohon Tunggu... Penulis - Panggil saya Kang Adjat saja

Meskipun sudah tidak muda, tapi semangat untuk terus berkarya dan memberi manfaat masih menyala dalam diri seorang tua

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Memutus Mata Rantai Covid-19, Haruskah Bangsa +62 Belajar ke Negeri Cina?

1 April 2020   19:44 Diperbarui: 1 April 2020   20:43 164
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Drone yang mengantar sampel pasien di China (timurangin.com)

Banyak di antara kita yang masih bertanya-tanya, kenapa negara Cina yang  menjadi episentrum mula pertama munculnya virus corona, dalam tempo sekitar 2,5 bulan saja sudah berhasil mengatasinya, dan dinyatakan sudah pulih kembali situasinya seperti sedia kala. 

Sementara negara-negara lainnya - termasuk Indonesia, masih berkutat mencari formula untuk mengatasi pandemi ini yang semakin hari korban yang positif terjangkit terus bertambah saja.

Di samping itu, muncul juga dugaan yang mengarah kepada tudingan, dengan mereka-reka apabila COVID-19 merupakan senjata kimia yang digunakan pemerintah Cina untuk memusnahkan suku Uyghur, ada pula tudingan sebagai senjata kimia Amerika Serikat demi ambisinya sebagai adikuasa di seluruh dunia. 

Memang dalam setiap ada permasalahan, bermacam-macam prediksi dan dugaan yang mengandung kecurigaan, adalah merupakan sesuatu hal yang wajar.

Akan tetapi apabila dugaan itu hanyalah sebatas praduga yang tanpa diikuti oleh bukti,  apalagi namanya jika  bukan fitnah disebutnya. Terlebih lagi jika sampai disebar-luaskan, konsekuensinya dapat berakibat fatal. 

Sungguh. Kita bisa melihat bagaimana seorang ustaz yang mengatakan bahwa virus corona merupakan tentara Allah yang akan melindungi suku Uyghur dari penyiksaan pemerintah China. Akan tetapi kemudian dia meralatnya.  Hanya saja berhubung sudah tersebar luas, paling tidak kredibilitas ustaz itu pun semakin diragukan.

Akan tetapi, terlepas dari itu semua, sejak pertama kali munculnya wabah virus corona yang diumumkan pihak berwenang Cina, yakni pada 31 Desember 2019 lalu, infeksi yang gejalanya mirip pneumonia yang diyakini berasal dari pasar hewan dan ikan di Wuhan, Provinsi Hubei (1), sejak saat itu dalam rentang waktu sekitar 2,5 bulan saja hingga 18 Maret 2020, tercatat lebih dari 81 ribu orang terjangkit positif virus yang kemudian disebut COVID-19 itu,  dan  3,245 orang yang meninggal dunia (2). 

Namun sebagaimana diumumkan kantor berita Xinhua, Rabu (18/3/2020), pemerintahTiongkok mengumumkan sudah tidak ada lagi kasus baru yang ditemukan. Sementara 34 pasien baru yang dicatat sehari sebelumnya merupakan kasus impor dari luar negeri (3).

Kita pun takjub, dan bertanya-tanya. Kenapa negeri Tirai Bambu itu bisa sedemikian cepatnya mengatasi pandemi COVID-19 tersebut? Apa rahasianya?

Terus terang, saya sendiri pada mulanya hampir-hampir tidak percaya. Bahkan sampai muncul dugaan kalau hal itu cuma rekayasa pihak pemerintah Tiongkok saja. 

Akan tetapi setelah membaca analisa seorang teman Kompasianer, Yusran Darmawan, di blog pribadinya,  yang menjadi keberhasilan China tak lain karena negeri Tirai Bambu memiliki beberapa senjata, yakni Big Data, kecerdasan buatan (AI), drone, teknologi robot, dan internet. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun