Mohon tunggu...
Adjat R. Sudradjat
Adjat R. Sudradjat Mohon Tunggu... Penulis - Panggil saya Kang Adjat saja

Meskipun sudah tidak muda, tapi semangat untuk terus berkarya dan memberi manfaat masih menyala dalam diri seorang tua

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Duh, Kasihan Ustaz FPI Ini Tak Paham Kearifan Lokal

26 November 2015   22:03 Diperbarui: 26 November 2015   22:03 195
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Sampurasun...”

Semua orang di warung kopi itu menoleh ke arah datangnya suara yang memberi salam dari jalan masuk sembari hampir serempak menjawab, “Rampes...”

Ternyata Abah Madrais, salah seorang kokolot (Tokoh yang paling dituakan, atawa tokoh masyarakat) kampung kami yang disegani, dan beliau ini juga seorang guru ngaji anak-anak, mulai dari mengeja alif ba ta, sampai yang akan khatam setelah mengulang tujuh kali membaca seluruh juz Al Qur’an.

“Pantesan tidak turun hujan, ternyata Abah datang bertandang...” ujar Jang Ayi sambil menyalami Abah Madrais, nama lengkapnya Muhammad Rais, hanya saja kebiasaan di kampung kami, dan mungkin pada umumnya orang Sunda cenderung suka menyingkat nama orang, seperti juga Abdul Hamid, orang lebih suka memanggilnya Dulhamid. Bisa jadi selain lebih mudah menyebutnya, juga memberi kesan lebih akrab dan familiar.

“Kebetulan tadi dari pulang melihat sawah yang akan dicangkul besok hari, Abah diminta Ambunya untuk membeli amis-amis (makanan ringan) untuk  anak-anak yang bekerja,” sahut Abah Madrais.

“Tapi Alhamdulillah, kami gembira juga bertemu dengan Abah sekarang ini. Selain sudah lama tidak bersilaturahmi, juga kebetulan tadi kami sedang gunem catur (diskusi ringan) perkara salam khas Sunda seperti yang tadi abah ucapkan,” kata Kang Atang.

“Memangnya mengapa dengan kata sampurasun itu, Jang ?” tanya Abah sedikit heran.

“Tidak, Bah. Hanya saja apakah benar arti kata sampurasun itu campur racun ?”

“Kata siapa itu ?” Abah kembali bertanya dengan mimik terperangah.

“Itu tuh, kata ustaz-nya Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab...” sahut Jang Ayi. Dan Abah tampaknya tidak percaya dengan jawaban Jang Ayi itu.

“Ah, yang benar saja, masa seorang ustaz sekaliber Habib bilang seperti itu ?”

“Abah sih tidak pernah lihat televisi, sekarang di televisi, dan juga di koran yang saya baca sedang ramai dengan berita itu,” Jang Ayi meyakinkan.

“Benar. Abah memang tidak pernah menonton televisi. Karena buktinya sekarang saja beritanya malah seperti itu.Tidak ada pulunganeunana (manfaatnya), yang ada malah mengadu-domba, dan saling melecehkan saja. Bahkan kalau benar seorang ustaz seperti Rizieq mengatakan sampurasun sama dengan campur racun, itu namanya suatu pelecehan terhadap budaya dan bahasa Sunda. Padahal arti dari kata sampurasun yang sesungguhnya adalah keberkahan untuk kita dan alam semesta. Maksudnya baik, bahasa Sunda kuno itu sama artinya denganwaalaikumsalam warahmatullohi wabarakatuh dalam bahasa Arab.

Kita, urang Sunda yang setiap harinya, bahkan sejak lahir diajarkan bicara dalam Basa Sunda oleh emak kita, seperti misalnya kata hao hakeng  saat bayi masih dalam gendongan, yang artinya kurang lebih adalah Allah Mahalanggeng (Mahaabadi), dan hidup dalam tradisi Sunda, dalam menerima ajaran agama Islam saja akan lebih mantap terasa kalau disampaikan oleh ajengan (ustaz) dalam basa Sunda. Seperti juga bacaan kitab suci Al Qur’an yang diterjemahkan dalam basa Sunda, akan membuat kita semakin khusyuk  dalam memusatkan hati dan pikiran dalam menunaikan shalat fardu yang lima waktu itu.”

“Bisa jadi Habib Rizieq telah gagal paham dengan kearifan lokal, Bah. Karena dia ‘kan keturunan Arab, dan dia tidak tahu adat-istiadat Sunda yang sesungguhnya,” kata Kang Atang. “Salah satu kearifan lokal Sunda yang relevan dengan Islam, yakni silih asah, silih asih, dan silih asuh (Saling ajar, saling mengasihi, dan saling menyayangi), maknanya begitu dalam, tampaknya sesuai dengan perintah Allah SWT, yang rahman dan rahim.”

“Sebagai orang Sunda, kita tidak perlu untuk marah mendengar pelecehan yang diungkapkan Habib itu. Karena marah malah akan merugikan kita semua. Lebih baik kita memaafkan ustaz Rizieq, dan mengasihaninya sebagai orang jahal, alias tidak tahu, atawa bodoh...” kata Abah seraya pamitan untuk pulang. ***

Keterangan: Dalam Kamus Umum Basa Sunda yang diterbitkan Lembaga Basa & Sastra Sunda, kata Sampurasun artinya Permisi, atawa dalam bahasa Sunda sekarang lebih sering menggunakan kata Punten yang artinya sama juga dengan Permisi; sementara kata Rampes artinya adalah silahkan masuk, atawa silahkan duduk. (Pen.)

*Serial Obrolan di Warung kopi

 

 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun