MEMANG benar apa yang dikatakan Adhie Massardi, negeri ini adalah negerinya para bedebah!” kata si Akang dengan tampang berang sambil membanting koran yang tadi dibacanya.
“Ada apa, Kang? Masih pagi sudah tegang, minum dulu kopinya tuh nanti keburu dingin,” kata saya mencoba untuk menetralisir situasi.
“Anggota dewan di komisi III hampir semuanya mencak-mencak tetap mau mengajukan interpelasi terkait moratorium remisi terhadap pelaku korupsi. Itu tandanya mereka tetap akan melanggengkan praktik kotor yang menyengsarakan rakyat di negeri ini. Dan kalau caranya begini, sudahlah, nanti di 2014 Akang akan larang para tetangga untuk tidak memilih parai-partai busuk itu. Bahkan kalau bisa semua rakyat tak usah lagi berpartisipasi di pemilu nanti, “katanya lagi masih dalam nada tinggi.
“Katanya saja PKS, atau PPP itu partai yang berazaskan Islam. Dalam agama Islam orang mencuri saja ‘kan di-qisash, sampai dipotong anggota badannya. Katanya untuk menimbulkan efek jera. Apalagi dengan korupsi, yang jelas-jelas membuat rakyat di seluruh negara jadi sengsara, ternyata masih juga dibelanya. Ada apa?”
“Yah, kalau Golkar dan PDIP sih tidak usah dibahas lagi. Semua orang juga sudah tahu. Seperti yang namanya si Bambang Soesatyo itu, kalau bicara kasus Bank Century, dia paling nyaring berkoar-koar, tapi sekali saja disentil kasus yang menjerat rekannya, macam yang dialami Paskah Suzetta, atau pun Lapindo, dia tampaknya diam seribu bahasa. Begitu juga Trimedia dari PDIP. Di sana ‘kan masih ada si Nababan itu yang terjerat kasus cek pelawat.”
“Kalau Partai Demokrat, lain lagi tujuannya.Mereka bisa jadi mau merehabilitasi citra. Supaya rakyat kembali percaya. Bisa jadi ujung-ujungnya tetap sama. Bila rakyat kembali bersimpati, langgeng pulalah kekuasaan demokrat. Maka seperti sebelumnya, kasus yang terjadi seperti sekarang ini, besok lusa akan terulang lagi. Korupsipun tak akan pernah berhenti.”
Si Akang seperti sedang berorasi di tengah orang yang sedang berdemonstrasi. Padahal di warung hanya ada kami berdua, ditambah si bibi pemilik warung yang sibuk membereskan dagangannya.
“Jadi orang yang masih bicara masalah HAM, melanggar aturan, dan tidak berperi-kemanusiaan terakit dengan tindak pidana korupsi, adalah pengkhianat terhadap amanat rakyat banyak. Kalau mau membasmi korupsi, sebaiknya meniru RRC. Jangan ada kompromi lagi. Koruptor harus dihukum mati.”
Gawat. Si Akang, tetangga saya yang biasanya tak pernah perduli dengan hiruk-pikuk politik di negeri ini, dan lebih asyik mencari nafkah untuk anak-istri, tiba-tiba seperti tersengat arus listrik tegangan tinggi. Naga-naganya kalau sudah begini, kalau seluruh rakyat sudah mengetahui pemerintahan mereka, yang di negaranya menganut sistem demokrasi identik sebagai jongos yang melayani mereka, ternyata telah berkhianat, apa boleh buat. Bisa jadi rakyat yang santun, atau sehari-hari tidak perduli, suatu saat nanti akan melakukan perubahan total.
Revolusi? Bisa jadi itu akan terjadi, karena rakyat memang berdaulat, dan apabila mereka senantiasa hanya dijadikan 'alat'.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H