Mohon tunggu...
Arief Er. Shaleh
Arief Er. Shaleh Mohon Tunggu... Guru - SSM

Menyenangi Sepi dan Gaduh

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Cerpen: Seekor Ayam Jago untuk Sarung Lebaran Ucup

17 April 2022   13:03 Diperbarui: 17 April 2022   13:13 1870
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: mesym on pixabay.com

Sang surya mulai meninggi. Meninggalkan persinggahan di setengah perjalanan siang hari. Pasar Rebo yang semula ramai. Tumpah ruah beraneka barang dagangan. Begitu ramai para pedagang dan pembeli. Mulai tampak sepi.

Pojok tenggara Pasar Rebo satu hari menjelang hari raya hanya meninggalkan tiga pedagang ayam. Termasuk Kakek Hasan yang kembali muncul dari arah utara. Arah Masjid Jamik Kejayan biasa para pedagang dan orang-orang sekitarnya melakukan ibadah salat.

"Belum ada pembeli, Cup?" Tanya kakek Ucup.

"Belum, Kek."

Ucup menjawab pendek. Lantas turun dari kotak kandang ayam yang cukup kokoh berbahan kayu meranti dan bambu petung.

Kakek Hasan mengambilkan sarung kumal Ucup yang menggantung di dinding papan kayu tempat bersandar,"Ya sudah. Sana, cepat salat Zuhur."

"Selesai salat Zuhur, Ucup boleh menemani kakek lagi di sini?" Tanya Ucup sembari mengambil sarung kumal dari tangan kakeknya.

Kakek Hasan memandang Ucup dengan tatapan sejuk dan menjawab singkat,"Boleh."

Ucup segera melangkah ke Masjid Jamik Kejayan. Langkahnya dipercepat seraya sesekali melompat girang. Kakek Hasan tak berkedip melihat gerak sigap langkah Ucup hingga menghilang di tikungan jalan arah masjid. Lantas tersenyum.

***

Di Masjid Jamik Kejayan masih ramai orang-orang beribadah. Ada yang salat. Ada juga yang berzikir dan mengaji.

Ucup bergegas berwudu dan menunaikan salat Zuhur sendirian di beranda samping kanan masjid. Ruang beranda yang cukup lebar dan terbuka memungkinkan angin sepoi-sepoi menyapa tubuh Ucup. Memberikan kesegaran dan kebugaran berlipat. Melupakan sejenak rasa dahaga yang sempat menggoda kerongkongan seakan dikeringkan.

Saat berdo'a, pikiran Ucup ingat ayahnya. Sudah lebih dari dua bulan tiada kabar yang pasti. Hanya sempat seminggu setelah pamit merantau, ada pesan dari teman ayah dari desa sebelah, sempat ketemu ayah Ucup di Jakarta. Entah Jakarta mana pastinya.

Zaman dulu belum ada handphone. Kabar yang bisa didapat hanya lewat surat-menyurat. Andaikan mau menelepon, masih memanfaatkan warung telepon dan juga telegram. Sedangkan di rumah Ucup dan tetangga, belum ada yang punya telepon.

Dalam do'a, Ucup menunduk penuh kepasrahan. Air matanya tak terasa menetes. Jatuh di sarung kumalnya,"Ya Allah. Jika Engkau perkenankan. Semoga ayah pulang hari ini. Menjelang hari raya. Di bulan yang penuh keberkahan dan ampunan-Mu".

Pundak Ucup berguncang pelan. Menahan isak tangis disebab rindu pada sosok ayah yang sangat menyayanginya.

***

Kembali ke pasar, hanya ada dua pedagang ayam. Masih setia menunggu pembeli untuk menangguk tambahan rezeki. Maklum, satu hari menjelang hari raya Idul Fitri, kebutuhan meningkat. Perlu tambahan rupiah untuk kebutuhan merayakan hari kemenangan dengan keluarga, tetangga, dan kerabat.

"Hanya tersisa ayam jago besar ini, Kek?" Tanya Ucup.

"Ya, cucuku. Semoga laku meskipun harganya mahal. Nanti bisa buat beli baju lebaran. Ucup khan belum punya baju baru."

Ucup menatap wajah kakeknya,"Baju Ucup masih lumayan bagus, Kek."

Kakek Hasan yang sedang mengelus ayam jago cukup besar dan berbobot satu-satunya menoleh ke Ucup,"Sungguhan?"

"Sungguh, Kek."

"Lantas, Ucup mau dibeliin apa?"

Ucup kembali terdiam dan terlihat girang,"Beliin sarung baru, Kek."

Kakek Hasan tersenyum. Mengelus dan mengecup kening cucu laki-laki satu-satunya.

"Adikmu sudah dibeliin baju baru, lho Cup. Kamu nggak pingin?"

"Nggak, Kek. Cukup sarung baru saja."

"Baiklah. Semoga ayam jago ini laku juga hari ini."

Tiba-tiba berhenti seorang lelaki di depan kakek Hasan.

"Ayamnya dijual, Pak?"

"Ya. Tinggal satu ini."

"Berapa harganya?"

"Lima belas ribu rupiah per kilogram."

"Nggak boleh kurang?"

"Sudah harga pasar. Tidak lebih."

Akhirnya ayam jago ditimbang. Bobotnya mencapai tiga kilogram lebih sedikit. Kakek Hasan menerima selembar uang lima puluh ribu rupiah. Cukup banyak di zaman dulu. Bisa untuk membeli tiga sarung kualitas bagus.

***

Bergegas kakek Hasan dan Ucup menutup lapak dagang ayam. Lantas ke "Toko Haji Mukri". Toko pakaian langganan Kakek Hasan.

"Assalamu'alaikum, Pak Haji."

"Wa'alaikumsalam. Mau beli baju, Pak Hasan?"

"Beli sarung warna putih untuk Ucup. Sekalian kopiah nusantaranya, Pak Haji."

"Lho, baju barunya sudah punya, Cup?"

"Baju lama masih layak pakai, Pak Haji."

Haji Mukri menatap Ucup dan seakan paham dengan keadaan keluarga Ucup. Lalu, mencarikan sarung dan kopiah sesuai keinginan Ucup.

"Ini sarung dan kopiahnya. Dicoba dulu, Cup."

Segera Ucup mencoba sarung baru dan kopiah nusantara yang disodorkan Haji Mukri. Terasa pas ukurannya dan enak dipakai.

"Bagaimana, Cup. Cocok?" Tanya Kakek Hasan.

"Cocok, Kek." Jawab Ucup singkat dan tersenyum.

"Berapa semua, Pak Haji?"

"Dua puluh ribu rupiah saja, khusus untuk Ucup."

Kakek Hasan tersenyum dan menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah. Lembar uang satu-satunya yang tersisa. Uang hasil penjualan ayam lainnya sudah diberikan ke ibunya Ucup untuk belanja dapur kebutuhan lebaran.

"Cup. Ini baju koko dan kaos untukmu. Pakai untuk lebaran besok. Hadiah untuk Ucup yang sering membantu membersihkan musala di rumah." Kata Haji Mukri sumringah.

"Alhamdulillah. Terima kasih, Pak Haji."

Haji Mukri mengangguk dan tersenyum bangga. Kakek Hasan dan Ucup bergegas pamit dan pulang ke rumah.

***

Sesampai depan rumah, suasana agak berbeda dirasakan Kakek Hasan dan Ucup. Pintu dan semua jendela terbuka lebar. Ada empat kardus penuh barang kebutuhan dapur dan baju baru di ruang tamu.

Tiba-tiba Ayah Ucup muncul dari pintu kamar, tangannya direntangkan ke arah Ucup. Segera Ucup menghambur dalam pelukan ayahnya.

Cukup lama Ucup dalam pelukan ayah yang sangat dirindukannya. Bergegas Ayah Ucup juga sungkem ke Kakek Hasan. Suasana bahagia sangat terasa. Ayah Ucup memberikan beberapa baju baru untuk semua keluarga, termasuk Ucup.

Ternyata benar kabar dari teman Ayah Ucup dari desa sebelah. Selama ini Ayah Ucup merantau ke Jakarta. Merintis usaha warung nasi di pinggir jalan yang cukup ramai pelanggannya. Berkah menjelang hari raya, khususnya Ucup yang sangat merindukan kehadiran ayahnya.

  

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun