Dalam tulisan saya berjudul "Inikah alasan Jumlah meninggal di Italia akibat covid-19 Lampaui Cina?", saya mencoba memaparkan bahwa salah satu alasan utama bagaimana kematian akibat covid-19 terus bertambah di negeri pizza tersebut karena ketidakdisiplinan dalam menjalankan social distancing.
Hal itu berdasarkan komentar dari Wakil Presiden Palang Merah China, Sun Shuopeng yang datang untuk membantu Italia menghadapi penyebaran virus di negara tersebut.
Sun mengatakan bahwa lockdown di Italia nampak tidak terlalu ketat karena karena masih banyak transportasi umum yang beroperasi, warga masih bisa berpesta dan makan malam. Padahal seharusnya semua warga perlu terlibat aktif untuk disiplin mengontrol dirinya untuk taat pada aturan pemerintah.
Hari ini, saya ingin share tentang hal lain yang dipandang penting untuk melihat alasan lain bagaimana jumlah kematian akibat virus corona di Italia begitu mencengangkannya.
Sebagai informasi, hari ini, berdasarkan worldometers, jumlah meninggal di Italia akibat virus corona sudah mencapai 4.032 orang.
Alasan lain yang ingin saya maksudkan adalah soal demografi usia penduduk Italia.
Dalam sebuah artikel berjudul "Social distancing working in Italy but epidemic could be determined by population demographics", dibahas mengenai pengaruh demografi usia tersebut pada jumlah kematian di Italia.
Dikatakan dalam artikel ini bahwa social distancing, memang berdampak signifikan untuk mengurangi pandemi dan perlu diteruskan.
Di Italia, efek dari lockdown di Lodi , kota dekat Milan, membuat angka kematian disana jauh lebih sedikit dari Bergamo, yang terlambat memberlakukan social distancing dengan ketat.
Akan tetapi demografi usia dipandang dapat menjadi salah satu data yang dapat digunakan untuk mengurangi penularan.

Dari data kematian bahkan dipaparkan bahwa sekitar 2000 jumlah kematian berada di usia seperti ini.
Pola Social Distancing Berdasarkan Demografi Usia
Apa pola yang dapat dipelajari dari data ini? Pertama, kita bisa memahami bahwa kematian yang secara dramatis akan lebih tinggi terjadi di negara-negara dengan populasi yang lebih tua dibandingkan yang lebih muda.
Kedua, peneliti menekankan bahwa ketika melakukan lockdown atau social distancing, perlu diperhatikan praktik budaya seperti keterhubungan sosial generasi yang lebih tua dengan yang lebih muda.
Bahkan, studi ini juga mengatakan bahwa di Italia ada "kontak antar generasi yang luas" termasuk anak-anak dewasa dan orang tua mereka yang tinggal bersama, yang mungkin dapat menjelaskan mengapa warga lanjut usia dapat terjangkit virus dengan lebih cepat.
Apakah ini berarti bahwa pola penanganan berdasarkan pemetaan usia perlu dilakukan nantinya, kita lihat nanti, karena perlu data yang lebih banyak lagi untuk menganalisa hal ini.
***
Menurut saya, penelitian di Italia ini bukan sesuatu yang mutlak yang dapat digunakan untuk negara lain seperti Indonesia.
Akan tetapi saya sepakat bahwa memahami bagaimana virus berdampak pada populasi termasuk demografi usia dapat memberikan wawasan tentang bagaimana pandemi akan berkembang.
Di Korea Selatan misalnya, kita akan menemukan demografi yang berbeda.
Di Indonesia, meskipun mirip, namun diskusi saya bersama beberapa teman dokter mengatakan bahwa kerentanan di usia tertentu bisa saja tidak berlaku di Indonesia.
Salah satu alasannya adalah kerentanan terhadap covid-19 di tingkat usia yang lebih muda karena penyakit lain, misalnya seperti merokok atau TBC.
Akan tetapi, sekali lagi, tidaklah salah jika wawasan ini dapat digunakan untuk para pemangku untuk dapat menentukan kebijakan yang tepat sekaligus memberikan edukasi pada masyarakat.
Mari bersama melawan covid-19.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI