Kembali ke soal gulai kambing olahan Aba. Jika harus menilainya saya menilainya dengan kata istimewa. Sup gulai Aba amat gurih dan dagingnya dimasak dengan sempurna. Terkadang gulai itu terlalu asin, tetapi gulai Aba, pas.
Rasa-rasanya tak ada gulai kambing di Kupang yang menyamai olahan istri Aba, meski di Kupang pernah terkenal gulai dari daerah Bonipoi yang telah menjadi legenda. Entah gimana kunyit, serai, daun salam dan daun jeruk diolah bersama bawang, kayu manis, yang penting sedap sekali di lidah.
Istri Aba memang pandai memasak, berasal dari kampung Muslim bernama Airmata, wanita di sana memang pandai mengolah makanan. Cerita Aba, dia jatuh cinta pada istrinya juga gara-gara gulai ini. Aba terkadang berlebihan.
Kami memang sudah beberapa kali menikmati sajian gulai di rumahnya Aba. Menikmati gulai sambil berbincang, nikmatnya terkadang tak ada taranya. Perbincangan kami mulai diisi soal bola hingga politik, meski untuk politik Aba lebih banyak diam. Aba memang tak suka bicara politik, padahal banyak kerabatnya yang jadi anggota dewan.
Soal bola, Aba adalah pengagum Lionel Messi. Alasan Aba cuma satu, Messi terlihat tidak sombong dibandingkan dengan Ronaldo. Jika Barca dan Messi kalah seperti kemarin ketika melawan Bilbao, kami memilih diam, Aba memang tidak tersinggung jika disindir, hanya Aba tidak akan menawarkan kami untuk wisata kuliner lagi. Sebuah kesialan bagi kami.
"Halo Aba.." Saya sudah sampai di pagar rumah Aba.Â
Aba tersenyum dengan peci hitam di kepalanya.
"Sendiri Om Arnold?"
"Iya Aba.."
Aba langsung mempersilahkan saya untuk duduk di sekitar meja makan di ruang keluarga yang cukup luas.Â
Istrinya yang berhijab keluar dari dapur membawa semangkok besar gulai berwarna kuning kecoklat-coklatan dan meletakannya di atas meja. Ada juga sepiring kecil berisi cabe merah dengan jeruk nipis dan sepiring asinan. Pasangan mantap bagi gulai kambing.
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!