Judul di atas adopsi jawaban Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) atas pertanyaan anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) saat Rapat Kerja pada 25 Agustus 2016. Dari penjelasan SMI, tergambar kondisi makro ekonomi dan kondisi politik antara pihak eksekutif (pemerintah) dengan pihak legislatif (DPR) yang saling mendukung.
Sebagai tambahan atas jawaban akan ancaman krisis terhadap Indonesia, Peraga-1 memberikan gambarang tentang Nilai Tukar Rupiah (IDR) dan Dolar Amerika (USD), Real Effective Exchange Rate (REER) Index, dan posisi cadangan devisa yang dikelola Bank Indonesia.
1. Bank for International Settlement (BIS) - REER Index
2. Bank Indonesia : Kalkulator Kurs dan Indikator Moneter
Peraga-1 menunjukkan sejak April hingga Juli 2016, jumlah cadangan devisa (cadev) meningkat USD 10 Miliar menjadi USD 111 Miliar; kurs tukar IDR - USD stabil, dan terjadi penguatan pada Indeks REER sebesar 2,2%. Penguatan indeks ini menunjukkan tingkat inflasi yang stabil dan terkendali (inflasi tahunan Juli 2016 - 2017 pada 3,21%), dan neraca perdagangan surplus (pada Juli 2016 tercatat hampir USD 600 Juta).
Bagaimana dengan potret penanaman modal asing (PMA) ? Peraga-2 memberikan gambaran pertumbuhannya.
Sementara ekspansi investasi perbankan nasional dan eksternal non lokal diberikan pada Peraga-3 di bawah
Hal ini menunjukkan impor barang modal sebagai bagian dari investasi belum banyak terjadi. Lambannya pertumbuhan penanaman modal asing dan ekspansi kredit investasi serta penurunan pinjaman investasi dalam mata uang asing merupakan indikasi negatif bagi pertumbuhan ekonomi; khususnya bagi tenaga kerja dan produksi; dan akan menjadi tekanan pada pada masa mendatang.
Kondisi global masih dalam tekanan pertumbuhanan dan spiral deflasi komoditas. Area European Union (EU) pasca Brexit masih terperangkap dalam Liquidity Trap. Kebijakan moneter European Central Bank melalui Assets Purchase Program dan kebijakan "Zero Lower Bound" (suku bunga sangat rendah  mendekati nol) tidak berhasil mendorong konsumsi dan mengangkat inflasi sehingga pertumbuhan EU tertekan.
Hal yang sama juga terjadi di Jepang; ekspansi fiskal sebagai stimulus ekonomi pada awal Agustus 2016 masih butuh waktu untuk menilai hasilnya. Perekonomian China masih bergulat dengan masalah "corporate debt" dan "capital flight". USA walaupun kondisi USD melemah, belum dapat mendorong ekspor bahkan defisit perdagangan meningkat. Dengan kondisi negara atau area tujuan ekspor masih tertekan, maka sulit bagi Indonesia berharap pada pertumbuhan perdagangan global.