Mohon tunggu...
Aris Try Andreas Putra
Aris Try Andreas Putra Mohon Tunggu... Dosen - Aris Try Andreas Putra

Aris try Andreas Putra, Dosen IAIN Kendari

Selanjutnya

Tutup

Politik

Politik Pendidikan: HARDIKNAS 2015 Vs Tamparan Keras Pendidikan

2 Mei 2015   21:20 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:26 58
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Lembaga pendidikan Formal (sekolah) diklaim oleh sebagian kelompok sebagai tempat yang mematikan dan mengalihkan minat dan bakat peserta didik. Sehingga sekolah sering di anggap sebuah momok.

If You Want To Be Rich And Happy, Don’t’ Go To School (Jika anda ingin kaya dan bahagia, jangan pergi ke sekolah).

Yaaa Tulisan Ini menjadi hantu yang menbayangi pemikiran dunia pendidikan (sekolah), sekaligus menyudutkan dunia pendidikan. Mengapa tidak logika paradoks dari judul buku ini adalah sekolah mengantarkan kita pada kegagalan dan penderitaan, (apa iya???)

Kegelisahan ini di tuliskan oleh seorang Motivator dan pengusaha terkenal dan Handal Robert T Kiyosaki. Menurutnya Pendidikan kerap kali menuntut orang untuk cerdas, tapi tidak menyiapkannya untuk dapat mencari pekerjaan dan Money (uang).

Boleh jadi kegelisahan ini benar apabila dunia pendidikan tidak membentuk manusia sebagai tenaga yang cerdas dan terampil. Boleh jadi kalimat di atas juga benar apabila Negara tidak menyiapkan lapangan kerja yang memadai sesuai dengan disiplin ilmu pembelajar. Sehingga output pendidikan (sekolah) adalah pengangguran.

Tulisan If You Want To Be Rich And Happy, Don’t’ Go To School merupakan bentuk dari kritik social dan kritik pendidikan yang hanya menyiapkan manusia untuk cerdas secara kognitif bukan psikomotorik. Ada yang mengklaim bahwa Pendidikan hanya menempatkan manusia dalam pendidikan sebagai peramai sekolah(datang, duduk, diam), sekolah menjadikan pembelajar kehilangan bakatnya, bukan agen pembaharu. Acap kali sekolah, tidak mengetahui karakteristik, kemampuan, kecenderungan bakat dan minat pembelajar. Sehingga sekolah memaksakan kehendaknya dan mengilangkan bakat yang dimiliki seseorang.

Sekolah seperti yang digambarkan di atas tersebut, betul menjadi sekolah yang mengantarkan anak pada kegagalan, kemalangan dan penderitaan.

Sekolah idealnya sebagai laboratorium, perputakaan dan tempat rekayasa generasi bangsa, yang menghasilkan genarasi yang cerdas, berakhlak, bijaksana, terampil, Inovatif, Kreatif, tangguh, unggul sekarang dan kemudiaan hari.

Hardiknas 2015 mudah-mudahan menjadi momentum perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Politik pendidikan mestinya diarahkan pada pendidikan pro kualitas bukan hanya pro kuantitas.

Kualitas Tersebut Minimal mengarah Pada Standar Nasional Pendidikan (SKL, SI, Standar Proses, Standar Pendidik dan tanaga kependidikan, Standar sarana Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiyaan Pendidikan, Standar Penilaian Pendidikan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun