Saung. Menelusuri jejak-jejak perjuangan bangsa terasa indah dan tak melelahkan. Menyebar di berbagai daerah, warisan budaya sarat nilai selalu unik untuk melengkapi dan memperkaya pengalaman. Selayaknya kita terlibat sebagai penjaga dan pewaris bangsa.Â
Saung Ranggon adalah sabuah bangunan tertua di Kabupaten Bekasi. Â Terletak di Jalan Cikedokan, RT 2/ RW 8, Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bangunan rumah panggung ini dibangun pada abad ke-16. Sempat berpuluh tahun tidak terawat, tetapi berhasil dipulihkan kembali pada tahun 1821. Raden Abas, seorang pejuang Kerajaan Mataram membuatnya layak menjadi sebuah sejarah hingga saat ini. Â
Sekilas tentang Saung
Dalam bahasa Sunda saung berarti saung/rumah yang berada di tengah ladang atau huma berfungsi sebagai tempat menunggu padi atau tanaman palawija lainnya yang sebentar lagi akan dipanen. Saung dibuat dengan ketinggian di atas ketinggian 3 atau 4 meter di atas permukaan tanah untuk menjaga keselamatan bagi si penunggu dari gangguan hewan buas, seperti babi hutan, harimau dan binatang buas yang saat itun masih banyak ditemui di sekitar Saung Ranggon.
Rumah kecil ini menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Saung Ranggon menyimpan cerita tentang perjuangan Pangeran Rangga, Putra Pangeran Jayakarta yang juga tokoh pejuang Betawi, untuk berjuang mengusir penjajah. Selama 500 tahun, rumah panggung ukuran 7,6 x 7,2 berdiri kokoh mengikuti zaman. Karena kisah pejuang-pejuang tak kenal lelah harus hadir dan tak berhenti sebatas waktu saja.Â
Saung Ranggon berdiri di atas lahan 500 meter persegi dengan tinggi bangunan kurang lebih 2,5 meter di atas tanah. Tiang-tiang  Saung Ranggon terbuat dari jenis kayu besi.  Tidak heran meski sudah lebih dari 500 tahun berdiri Saung Ranggon ini masih terjaga keasliannya. Bangunan ini juga tidak menggunakan material besi. Maka, pasak Saung Ranggon ini menggunakan  bambu, kayu, dan juga sabut kelapa. Karena material yang dipakai itulah, dimungkinkan Saung Ranggon mempu bertahan pada berbagai cuaca dan tetap awet berpuluh-puluh tahun.Â
Keunikan lain dapat ditemui di area Saung Ranggon. Bentuk Saung Ranggon adalah rumah panggung, menghadap ke arah selatan ditandai dengan penempatan tangga pintu utama dengan 7 buah anak tangga untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Â Tujuh buah anak tangga yang mengandung makna khusus yaitu jumlah hari dalam seminggu. Bagian dalam Saung Ranggon hanya merupakan ruangan terbuka dan tanpa sekat pemisah antara ruangan, walaupun ada sebuah kamar. Bentuk atap Julang Ngapak (atap yang terdiri dari dua bidang miring) dengan penutupnya dari sirap kayu. Dinding terbuat dari papan dan tidak mempunyai jendela. Pada dinding terdapat bukaan selebar 30 cm yang ada di sebelah kiri dan kanan dengan cara dinding bawah agak masuk ke dalam, sedangkan dinding atas berada di luar menempel langsung pada langit-langit kemungkinan disengaja sebagai ventilasi. Ada juga bagian dinding yang terbuat dari bilik(bambu). Rangka dan tiang-tiang terbuat dari kayu. Bagian bawah bangunan (kolong bangunan) terdapat tempat penyimpanan benda-benda pusaka yang dibentuk menyerupai sumur. Â