Setelah penat belajar macam-macam di perpustakaan--terutama menyelesaikan tugas kuliah--sekedar represhing menyeberang lewat Jembatan Pasar Lama sambil menuju pulang maksudnya.
Saya termasuk penggila mancing sejak dahulu, jadi jika bertemu sungai hayalan tentang betapa dahsyatnya mancing pasti terbayang. Jadi menyusuri sungai menjadi hiburan andalan. Apalagi malam hari dengan cahaya lampu kecilangan dari seberang sungai. Sungguh sangat indah.
Pas kebetulan sekali di tepi sungai berpapasan dengan seorang teman. Ia sedang mancing bersama isterinya. Maka kami berbincang-bincang dan meminta saya menemaninya mancing. Saya pun setuju. Berbekal alat pancing dan perlengkapan darinya saya pun mancing.
Waktu kemudian berjalan, tak terasa tengah malam telah tiba. Gerimis mengundang memang. Merasa tidak enak mengganggu mereka, saya pun memisahkan diri menjauh.
Tepat di depan Masjid Sabilal Muhtadin itulah saya mulai melempar umpan. Sambil menanti umpan disambar ikan mata saya celingukan ke sana kemari.
Di tempat itu rupanya ada yang pacaran, beberapa pasang remaja. Heran saja, sudah tengah malam begini, memangnya orangtua mereka tidak ada yang mencari atau khawatir pada anak gadisnya.
Sekarang, bila kita bertandang di malam hari, penampakan kerlap kerlip lampu yang membentang luas di Kota Banjarmasin akan menjadi pemandangan yang sungguh memanjakan mata.
Bahkan semilir angin yang begitu sejuk, membuat pengunjung tak ingin sebentar menikmatinya. Jadi tak heran jika malam hari banyak sekali wisatawan terutama kaum muda menghabiskan waktunya disini.
Saat itu memang masih remang-remang. Hanya lampu jalan yang menerangi.
Merasa tak ada ikan yang menyabar umpan, maka saya pun berniat pulang. Namanya mau pulang pastilah langkah saya sedikit laju.
Namun tiba-tiba saya sangat terkejut dan langsung berteriak. Kali ini bukan karena ular atau hantu. Dari balik tanaman di kotak persegi satu kali satu meter itu ada tangan yang langsung mengarah ke "anu" saya. Berniat memegang, karena saya kaget, langsung meloncat dan berteriak.