Mohon tunggu...
Arif Muhammad
Arif Muhammad Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

Menulislah untuk keabadian

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Hadiah Lebaran Paling Berkesan?

8 Juni 2018   21:23 Diperbarui: 8 Juni 2018   21:58 1066
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Credit Image : pxhere.com

Jujur saja, untuk tema kompasiana pada hari ini saya agak bingung bagaimana menuliskannya. Temanya adalah mengenai hadiah lebaran yang paling berkesan. Tidak ada masalah dengan temanya memang, hanya saja seumur-umur saya hidup di dunia ini, rasa-rasanya belum pernah dapat hadiah lebaran yang begitu spesial sehingga sangat berkesan dan membekas di sanubari. Boro-boro dapat yang spesial, lha wong dapat hadiah lebaran juga tidak pernah.

Mungkin yang sedikit mendekati adalah semasa saya masih kecil, suka dibelikan baju baru sama orang tua. Apakah itu juga termasuk hadiah? Saya kira tidak. Beli baju baru di lebaran memang sudah jadi habit bagi masyarakat kita di mana-mana. Namun, bila orang menganggap itu hadiah, juga sah-sah saja. Tergantung dari sudut masing-masing bukan?

Walau memang faktanya saya tidak pernah mendapatkan hadiah yang begitu spesial dan berkesan ketika lebaran, tapi setidaknya saya pernah merasakan momen spesial yang berkesan. Itu adalah ketika semua anggota keluarga bisa berkumpul bersama di hari yang fitri.

Sungguh, untuk saat ini saya bisa katakan sulit. Tidak bisa terjadi seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Karena situasi dan kondisi juga berbeda. Jauh berbeda. Kalau dulu jumlah keluarga masih utuh, sekarang sudah tidak. Kalau dulu presidennya masih Pak SBY, sekarang udah Pak Jokowi. Kalau dulu orang kirim doa lewat sembayang, sekarang lewat status medsos. Kalau dulu bocah-bocah suka main perang-perangan, sekarang sukanya main mobile legend. 

Yang masih sama mungkin hanya para koruptor saja yak,  yang dari dulu sampai sekarang ga pernah habis-habis, malah turun temurun,udah kayak warisan. Dan kalau ketangkep KPK masih tetap senyum-senyum dan melambaikan tangan. Sungguh konsisten sekali bukan? 

Kok jadi ngelantur sih.   

Baik, kembali ke keluarga. Intinya semua sudah berbeda.

Keluarga saya memang tidak besar-besar amat. Layaknya keluarga Indonesia pada umumnya. Normal-normal saja. Ada ayah, ibu, kakak, saya dan adik.

Ayah sudah lama tiada, otomatis satu anggota keluarga hilang, dan tak mungkin kembali. Kakak pertama sudah ikut suaminya di belahan negeri yang lain. Sangat jarang sekali berkumpul dan bersua bersama keluarga. Tinggal Ibu, saya dan adik satu-satunya. Dan sepertinya hanya tiga itu yang merayakan lebaran di rumah pada tahun ini. Dan memang di situ kadang saya merasa sedih.

Oleh karena itu mengapa, bagi saya 'hadiah' yang paling berkesan di saat lebaran adalah bukan sesuatu hal yang baru, bagus atau apa. Bukan sesuatu hal yang mahal atau yang paling diinginkan untuk dimiliki. Melainkan waktu kebersamaan yang dulu pernah saya rasakan dan sekarang belum bisa saya rasakan kembali.

Kebersamaan keluarga adalah 'hadiah' lebaran yang paling berkesan bagi saya pribadi.

Saat ini, tidak ada dorongan hati yang meluap-luap ketika hendak mudik lebaran. Karena sudah bisa menerka apa yang akan terjadi dan dialami di rumah,di kampung halaman. Mungkin yang sedikit membuat sumringah, ketika malam lebarannya. Karena memang di tempat tinggal saya begitu heboh. Dan tak jarang ada pesta kembang api di mana-mana yang tak berhenti hingga larut.

Ketika di hari-H, selepas sholat Ied, ya sudah. Flat saja. Semua kembali ke kehidupan biasa. Ramadhan sudah berlalu, lebaran pun tak begitu ditunggu. Hanya duduk termangu, menahan pilu karena kerinduan kehangatan keluarga di masa lalu.

Walau begitu, bukan berarti di hari lebaran besok malah jadi bersedih hati. Tetap bersyukur dengan apa yang ada saat ini. Itu yang terpenting.

Saya menyadari dalam hidup akan selalu ada yang datang dan pergi. Semua tak ada yang abadi. Kita tidak pernah bisa menahan yang sudah waktunya untuk pergi. Dan juga tidak bisa menolak yang sudah waktunya untuk tiba. Syukuri apa yang dipunyai, karena itu adalah rahmat dari Yang Maha Kuasa atas hidup kita.

Memang terlihat menyenangkan, bila menengok tetangga sebelah yang begitu ramai dan hidup suasananya di hari lebaran. Begitu bahagia berkumpul dengan keluarga. Namun, sekali lagi mengeluh bukanlah pilihan. Tiap-tiap orang punya waktunya masing-masing. Belum tentu yang terlihat bahagia di mata kita, namun ternyata juga menahan pilu yang sama. Hati orang siapa yang tahu.

Jangan selalu memegang prinsip rumput tetangga lebih hijau. Semua rumput itu hijau. Ga ada yang warna merah. Rumput kita sendiri juga hijau. Jangan pernah iri dengan rumput sebelah. Tetap bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan, dan selalu berdoa dan berusaha untuk mendapatkan yang terbaik yang telah menjadi harapan selama ini.

Tabik,

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun