Mohon tunggu...
arif priyono
arif priyono Mohon Tunggu... Lainnya - pegawai negeri sipil

saya berusaha menjadi orang yang bermanfaat

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur

Tingkatan Investor Properti

8 September 2023   10:24 Diperbarui: 8 September 2023   10:27 177
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

SEMANGAT PAGI

Salam sehat-sukses dunia akhirat.

Saat kita mencari lokasi prospek properti yang hot/great deal, selalu menggunakan kriteria CAHATILOKODOK, Kriteria yang pertama yaitu CAshflow, ini wajib harus menjadi faktor pertimbangan pertama dan utama. Cashflow disini maksudnya adalah nilai perputaran usaha yang ada pada properti tersebut, misal usaha kost-kostan, laundry, toko, rumah makan dll. Untuk investor pemula, apalagi jika sama sekali belum ada pengalaman dalam hal properti, maka kriteria Cashflow ini wajib positif yaitu ketika hasil keuntungan dari usaha yang ada pada properti itu lebih dari nilai cicilan kpr atas properti tersebut.

Investor pemula, dilihat dari pengalaman dalam hal akuisisi properti. Jika baru pertama maka wajib memperhatikan cashflow. Untuk tahap yang lebih expert, bolehlah investor mulai melihat prospek properti ke depan walaupun kondisi saat ini properti ini masih belum ada usaha disana. Misal ketika melihat potensi tanah kosong atau bangunan lama yang strategis, dekat dengan pusat keramaian,  maka peluang ini bisa langsung ditangkap dengan membuat rancangan properti itu akan dijadikan usaha apa, misal usaha kost-kostan plus toko/laundry dkk.

Itu jika dilihat dari pengalaman membeli properti. Jika dilihat dari pola investasi, menurut guru saya ada beberapa tingkatan investor, yaitu:

1. Tingkat Taman kanak-kanak (TK). 

Pola ini biasanya dilakukan oleh orang tua kita, yaitu ketika akan membeli properti, mereka akan menabung terlebih dahulu sampai dengan cukup baru beli properti. Jadi polanya adalah: nabung-beli-simpan.

2. Tingkat SD

Biasanya adalah investor yang membeli properti menggunakan emosi saat membeli, misal membeli rumah pertama. Karena memakai emosi, maka sering kali tidak menggunakan akal sehat, sehingga tidak melakukan survey lokasi lain, tidak menawar dll.  

3. Tingkat SMP

Posisi ini, investor membeli properti tanpa emosi, sudah bisa mengunakan akal sehat, masih survey dahulu sebelum eksekusi pembelian. Jadi harga properti sudah realistis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Entrepreneur Selengkapnya
Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun