"Dalam penulisan ini, fenomena minyak bintang akan diulas dari salah satu komponen komunikasi, yaitu pesan. Dalam aktifitas komunikasi terapeutik, pesan adalah sesuatu yang sangat penting.Â
Tanpa pesan, seorang komunikator tidak akan sanggup menjadi seorang komunikator karena tidak ada yang disampaikan.Â
Dalam konteks budaya di Indonesia tentunya komunikator yang mampu mengolah pesan high context akan lebih berhasil mempengaruhi pasien daripada pesan low context yang biasanya dipraktekan oleh petugas medis.Â
Karena itu pengobatan minyak bintang tetap dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai pengobatan alternatif karena pembawaan pesan yang disampaikan lebih bersifat implisit."
"Ah.. pesan! betul pesan! itulah mengapa minyak bintang ini 'tega disatukan' oleh keluarga pasien dengan salep Gentamicin-ku untuk mengobati luka post kecelakaan lalu lintas pada anaknya."
Sekali lagi aku benar-benar tertarik dan terus akan mengutip, dan mungkin akan terus menyampaikan kalimat yang ku anggap poin utama dari jurnal ini yakni "Tanpa pesan, seorang komunikator tidak akan sanggup menjadi seorang komunikator karena tidak ada yang disampaikan.."
Aku tersenyum, menghela nafas, sambil bersyukur aku diberi kesempatan menjadi dokter. Menjadi dokter memberikanku kesempatan untuk dapat mengobservasi fenomena yang ada di masyarakat.Â
Dan memang seharusnya, sebagai dokter tak hanya mengamati pasien hanya dari segi medis, banyak sekali yang harus diperhatikan.Â
Dari segi agama, budaya, kepercayaan, sosial ekonomi, demografi, dll yang tentunya setiap dari hal tersebut menyumbang kontribusi terhadap status kesehatan seseorang dan lalu berdampak pada segi kualitas sumber daya manusia.
Teringat beberapa hari yang lalu, aku mengikuti kursus online dari Universiteit Leiden mengenai population health.Â
Di sana ia menyebutkan bahwa salah satu kunci keberhasilan untuk aspek Governance dari Population Health ialah dengan merangkul komunitas lokal, dan aku turut mengartikannya sebagai menghormati kearifan lokal.Â