Seorang teman yang membaca postingan saya kemarin tentang 'Tempat Nyaman untuk Menulis' bertanya setengah protes, 'masak sih kamu ga pernah menulis di kafe?'
Memang, beberapa kali saya bersama komunitas pemerhati budaya setiap bulan sekali diskusi tentang budaya dan adat istiadat serta sejarah Malang di sebuah kafe di Tumpang, Malang. Sebuah kafe ala desa.
Salah satu keunikan kafe tersebut adalah menyediakan buku-buku untuk dibaca di tempat.
Diskusi dan bacaan tentang budaya tersebut kadang saya tulis untuk sebuah postingan.
Jika di Malang hanya sebulan sekali maka saat di Jogja boleh dikatakan hanya beberapa kali dalam empat tahun terakhir. Hanya pada saat ingin suasana berbeda.
Selama ini hanya pada sebuah kafe di sekitar Taman Sari. Pilihan pada kafe ini karena di sini juga menjual buku-buku humaniora dan sastra yang berbobot.
Hari ini saya mengunjungi kafe ini sehubungan ketertarikan akan tema yang diusung Kompasiana tentang jejak dan sejarah masa kolonial.