Indeks Kebahagiaan
Bahagia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram lahir maupun batin. Definisi bahagia bisa saja berbeda pada setiap orang. Seseorang yang belum menikah alias jomblo bisa saja lebih merasa bahagia dengan kesendiriannya, tetapi orang lain bisa saja merasa tertekan dan tidak bahagia dengan kesendiriannya. Seseorang yang hidup di perdesaan bisa saja lebih bahagia dibanding jika harus hidup di perkotaan, atau bisa saja orang lain merasakan sebaliknya.
Indeks kebahagiaan Indonesia tahun 2017 sebesar 70.69 pada skala 0-100. Dari angka tersebut bisa dikatakan bahwa masyarakat Indonesia tergolong cukup bahagia. Angka tersebut dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa saat lalu berdasarkan Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK). Indeks kebahagiaan yang diperoleh tersebut disusun berdasarkan 3 aspek pengukuran, yaitu kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup.
Secara umum menurut survei tersebut bahwa orang  yang tinggal di perkotaan lebih bahagia sebesar 71.64 dibandingkan dengan orang yang tinggal di perdesaan sebesar 69.57. Hal ini bisa saja disebabkan oleh sarana dan fasilitas yang bisa diakses dengan mudah di perkotaan. Apabila dilihat dari aspek kepuasan hidup maka kepuasan hidup sosial orang yang tinggal di perdesaan lebih besar jika dibandingkan dengan orang yang tinggal di perkotaan yakni 76.51 berbanding 75.86 yang bisa saja disebabkan oleh kepuasan orang tinggal di perdesaan karena relatif lebih bersahabat, aman, dan masih memegang semangat kegotongroyongan.
Kemiskinan dan Kebahagiaan
Sebagian orang akan menganggap bahwa sumber kebahagiaan adalah kekayaan, yakni dengan terpenuhinya hidup mewah. Tidak heran jika ada orang yang rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya. Hidup miskin atau serba pas-pasan dianggap adalah biang dari kegundahan dan kesedihan yang dialami.
Pada tahun yang sama dengan SPTK yakni tahun 2017, BPS juga melakukan rilis data mengenai kemiskinan di tiap provinsi yang diperoleh dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Pulau Papua dan Maluku mendominasi persentase kemiskinan terbesar yakni sekitar 21.45 persen sedangkan persentase penduduk terendah berada di Pulau Kalimantan yakni sekitar 6.25 persen. Kalau dilihat dari segi jumlah penduduk miskin (bukan persentase) maka jumlah penduduk terbesar masih berada di Pulau Jawa yakni sekitar 14.79 juta orang sedangkan yang terendah berada di Pulau Kalimantan sekitar 0.99 juta orang.
Apabila kita ingin melihat korelasi atau seberapa kuat hubungan antara kemiskinan dan kebahagiaan di setiap provinsi, maka kita lakukan analisis regresi sederhana di mana variabel independen adalah persentase kemiskinan sedangkan variabel dependen adalah tingkat kebahagiaan. Dari analisis tersebut diperolah sebuah angka hubungan dua variabel yakni sebesar 0.033, artinya bahwa hubungan keduanya sangat lemah bahkan cenderung bisa diabaikan.Â
Seandainya semakin kecil tingkat kemiskinan suatu provinsi membuat tingkat kebahagiaan semakin besar maka seharusnya Provinsi Banten yang tingkat kemiskinan termasuk yang terendah (5.45 persen) seharusnya paling bahagia, kenyataannya tingkat kebahagiaan Provinsi Banten di bawah rata-rata nasional (69.83). Begitu pun jika seandainya semakin besar tingkat kemiskinan membuat tingkat kebahagiaan akan semakin kecil maka seharusnya Provinsi Maluku tidak berada di posisi kedua dengan tingkat kebahagiaan terbesar, padahal persentase penduduk miskin termasuk yang terbesar  yakni sekitar 18.45 persen.
Bersyukur dan Bahagia
Bersyukur merupakan ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhana wataala, atas nikmat yang telah diterima. Bersyukur bisa diartikan sebagai perasaan cukup atau kepuasan terhadap kehidupan yang dijalani. Nah, dari SPTK yang dirilis oleh BPS tersebut ada data-data Indeks Kepuasan Hidup yang meliputi dua subdimensi yakni kepuasan hidup personal dan kepuasan hidup sosial.Â
Kepuasan hidup personal meliputi pekerjaan, usaha rumah tangga, pendapatan rumah tangga, kesehatan, dsb. Indeks kepuasan hidup seseorang dari sisi pekerjaan atau pendapatan meski tidak besar ada kecenderungan orang merasa cukup puas dengan itu, dengan kata lain orang atau rumah tangga cenderung merasa qanaahdengan itu.Â
Apabila angka indeks kepuasan hidup atau dengan kata lain kaaya hati (qanaah) itu kita hubungkan dengan indeks kebahagiaan (korelasi dua variabel tersebut) maka diperoleh angka 0.91, artinya memiliki hubungan yang sangat kuat. Misalnya, Provinsi Maluku yang memiliki indeks kepuasan hidup sebesar 75.05 berkorelasi positif dengan tingkat kebahagiaan provinsi tersebut yakni sebesar  73.77. Begitu pun Provinsi Banten yang memiliki indeks kepuasan hidup di bawah rata-rata (70.37) maka hal itu juga sejalan dengan indeks kabahagiaannya yakni 69.83.
Dari survei dan data-data yang diperoleh tersebut bisa disimpulkan bahwa kemiskinan atau keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan hidup bukanlah hal yang mempengaruhi terhadap tingkat kebahagiaan seseorang. Orang boleh saja kaya dengan kekayaan yang berlimpah tetapi tidak menjamin kebahagiaan bagi hidupnya.Â
Lihat saja Qarun yang gembok-gembok tempat penyimpanan hartanya saja tidak kuat diangkat oleh satu dua orang tetapi itu tidak membuatnya menjadi orang yang bahagia, bahkan kegundahan dan kegelisahan yang diperoleh. Sebaliknya, orang bisa saja seorang miskin dengan segala keterbatasan tetapi bisa bersyukur dan merasa cukup (qanaah) terhadap apa yang dimiliki dan hal itu membuatnya menjadi orang yang paling bahagia.Benar sekali kata sebuah ungkapan bahwa, "Bukan bahagia yang membuat kita bersyukurtetapi bersyukur yang membuat kita bahagia."
Rumus bahagia adalah bersyukur. Sebagai umat Islam terbesar di dunia yakni sekitar 87 persen dari sekitar 261 juta jiwa penduduk, seharusnya kita bisa mengaplikasikan secara penuh nilai-nilai yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang kesyukuran.Â
Bagaimana beliau menyampaikan firman Allah subhana wataala bahwa orang yang bersyukur akan senantiasa ditambahkan nikmatnya (QS Ibrahim:7), sehingga seyogianya dengan nikmat yang "cukup" saja bisa membuat kita merasa bahagia maka seharusnya dengan kenikmatan yang bertambah akan membuat kita menjadi orang-orang yang paling bahagia. Menurut alhadits bahwa jika seseorang memiliki rasa aman, memiliki tempat tinggal (meski sangat sederhana), sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah memiliki dunia dan seisinya (HR Tirmidzi). Terus apa lagi alasan bagi orang-orang yang memiliki lebih dari itu untuk tidak bersyukur?! Syukurilah maka Engkau akan bahagia. (*)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI