Selain diperuntukkan untuk pakan ternak alami, maggot juga memiliki kemampuan untuk menguraikan sampah organik. Keberadaan maggot tentunya sangat mampu memberikan keseimbangan lingkungan khususnya pada pengelolaan sampah. Kondisi sampah yang semakin hari semakin menumpuk dapat dikurangi dan ditekan dampaknya melalui budidaya maggot.Â
Maggot hidup dengan cara memakan limbah organik. Kemampuan maggot dalam menguraikan sampah terbilang cepat. Setelah menetas, maggot membutuhkan sampah organik sebagai makanan untuk bertahan hidup. Maggot bukan serangga jenis hama sehingga pengembangbiakannya untuk menguraikan sampah termasuk aktivitas yang ramah lingkungan.
Menurut undang-undang No. 18 Tahun 2008, pengelolaan sampah adalah suatu kegiatan sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.Â
Permasalahan dalam pengelolaan sampah timbul dari sumber penghasil sampah itu sendiri. Misalnya sampah dari aktivitas rumah tangga yang dihasilkan setiap harinya baik sampah organik maupun anorganik dengan penanganan yang tidak dipilah ditambah dengan kebiasaan dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian diangkut, lalu dibuang. Permasalahan terjadi pada penanganan sampah yang belum optimal sehingga permasalahan sampah menjadi semakin kompleks di Indonesia.
Pengurangan sampah dapat dimulai dari sumbernya yaitu dengan pembatasan timbulan sampah dengan cara konsumsi sesuai dengan kebutuhan sehingga sampah yang ditimbulkan menjadi lebih sedikit. Solusi lain yang dapat dilakukan yaitu kegiatan daur ulang yang dikenal dengan istilah 3R (reduce, reuse, recycle).Â
Berdasarkan data KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) tahun 2018, bahwa komposisi sampah di Indonesia sebanyak: 57,68% sampah organik; 15,71% sampah plastic; 10,58% sampah kertas; 3,06% sampah logam; 12,97% sampah jenis lainnya. Berdasarkan hal tersebut, bisa dilihat bahwa sampah organik merupakan sampah paling banyak dihasilkan. Hal ini berarti bahwa pengelolaan sampah organik mengambil porsi penanganan yang lebih besar daripada pengelolaan sampah jenis lainnya.
Dari hal demikian, diperlukan solusi untuk pengelolaan sampah organik dengan cara mengurangi timbulan pada sumbernya dan daur ulang. Pemanfaatan kembali atau daur ulang sampah organik yang telah banyak dilakukan umumnya yaitu dibuat pupuk organik atau kompos. Dan yang saat ini sedang dikembangkan adalah untuk pakan maggot BSF. Upaya-upaya pengelolaan sampah organik tersebut dapat menjadi salah satu solusi dalam menangani sampah sebelum sampah masuk TPA.Â
Dengan beragam manfaat yang didapat, maka budidaya maggot BSF dapat dijadikan sebagai suatu ladang keuntungan, karena tidak perlu perlakuan khusus dalam merawatnya. Siapapun bisa mengembangkan budidaya maggot ini. Sumber makanan untuk maggot pun tidak sulit didapatkan cukup dari sampah atau limbah orgaik. Selain dapat menguraikan sampah organik, maggot bisa dijadikan pakan ternak yang memiliki kualitas yang sangat bagus, karena mengandung nutrisi yang baik bagi pakan ternak.
Maka dari itu, salah satu desa di Kecamatan Lawang, yaitu Desa Ketindan berencana untuk mengembangkan budidaya maggot BSF yang memiliki banyak manfaat ini. Dengan bantuan mahasiswa KKM UIN Malang, rencana awal tadi diharapkan dapat teralisasikan segera. Dimulai dari observasi terlebih dahulu ke tempat daerah budidaya maggot BSF, yaitu Singosari milik Bapak Dian. Dari tempat tersebut didapatkan banyak ilmu mengenai budidaya maggot, mulai dari fase telur sampai menjadi lalat dewasa.Â