Aksi Kekerasan oleh Anak, Cermin Jiwa Yang Rapuh, Bagaimana Solusinya?Â
JAKARTA, -"Kekerasan adalah cermin jiwa yang rapuh" kata tokoh terkenal India, Mahatma Gandhi. Mahatma Gandhi lahir pada tanggal 2 Oktober 1869 dan meninggal pada tanggal 30 Januari 1948. Gandhi adalah pemimpin perjuangan kemerdekaan India yang dikenal dengan filosofi ahimsa (aksi tanpa kekerasan). Â
Ungkapan "Kekerasan adalah cermin jiwa yang rapuh", yang disuarakan oleh Mahatma Gandhi ini, mengandung beberapa makna penting, di antaranya:
Bahwa Kekerasan mencerminkan kelemahan batin: Gandhi percaya bahwa ketika seseorang menggunakan kekerasan atau tindakan keras terhadap orang lain, itu seringkali merupakan cermin dari ketidakstabilan atau kelemahan dalam diri seseorang.
Dalam pandangan Gandhi, menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan konflik adalah tanda bahwa seseorang tidak mampu mengendalikan diri sendiri atau tidak memiliki kekuatan moral yang cukup.
Bahwa Ada Pilihan untuk kebaikan batin: Gandhi menekankan pentingnya mengembangkan kekuatan moral, penguasaan diri, dan cinta kasih sebagai cara untuk mengatasi konflik dan ketegangan dalam masyarakat.
Dia berpendapat bahwa menggunakan tindakan non-kekerasan adalah bukti dari kekuatan jiwa yang lebih besar daripada tindakan kekerasan, yang sering kali melibatkan kemarahan dan kebencian.
Bahwa Pesan ini untuk menghindari kekerasan:Â Pernyataan ini sekaligus adalah ajakan untuk menghindari tindakan kekerasan dalam penyelesaian konflik. Gandhi sangat menentang penggunaan kekerasan sebagai alat politik dan sosial. Â
Jadi, pesan Gandhi jelas bahwa tindakan kekerasan mencerminkan kelemahan jiwa, atau jiwa yang rapuh. Dan bahwa kita seharusnya mencari solusi yang lebih baik dengan menghindari kekerasan dan menciptakan perubahan sosial melalui prinsip-prinsip moral yang relevan.
Kekerasan Marak Dilakukan oleh Anak
Peristiwa aksi kekerasan yang dilakukan oleh siswa remaja atau anak di lingkungan sekolah, ramai diberitakan di media akhir akhir ini. Hal ini tentu memicu keperihatinan kita bersama. Seolah pesan moral seperti disuarakan Mahatma Gandhi, tetap relevan kita suarakan bersama, sekaligus mencari solusinya bagaimana.
Pertanyaan mendasarnya adalah:Â apa akar penyebab aksi kekerasan atau kriminal yang dilakukan anak atau remaja dibawah umur itu? bagaimana kita mengupayakan bersama untuk mengatasi masalah sosial pada anak itu? ulasan sederhana ini mencoba menjawab dua pertanyaan itu. semoga ulasan ini bermanfaat.
Akar Masalah Kekerasan Sosial pada Anak
jika tindak kekerasan atau perilaku kriminal dilakukan oleh remaja atau anak, apa akar penyebab masalah itu? Mari kita mengupasnya lebih dalam dari perspektif ilmu sosial.
Menurut penulis, tindakan kekerasan atau perilaku kriminal yang dilakukan oleh remaja atau anak bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor akar penyebab yang kompleks, meliputi:
Faktor Keluarga:
Pola didik dan pengasuhan: Lingkungan keluarga, seperti pola didik, tingkat dukungan, dan pemahaman nilai-nilai moral dalam keluarga, dapat memengaruhi perilaku anak. Keluarga yang abai, tidak disiplin dan tidak memperhatikan anak, dapat memicu risiko perilaku kriminal anak.
Paparan terhadap kekerasan: Artinya, anak yang terpapar terhadap kekerasan dalam rumah tangga atau lingkungan sekitarnya, dapat menginternalisasi perilaku tersebut dan menjadi lebih mungkin untuk menjadi agresif atau terlibat dalam perilaku kriminal.
Kurangnya kontrol atau perhatian dari orangtua: Ketidakmampuan orangtua untuk memberikan pengawasan, aturan, dan perhatian yang cukup pada anak dapat memicu perilaku anak yang tidak terkendali.
Faktor Individu:
Masalah kesehatan mental:Â Gangguan kesehatan mental seperti gangguan perilaku, depresi, atau gangguan jiwa lainnya, dapat berkontribusi pada perilaku kriminal atau kekerasan oleh anak.
Ketidakstabilan emosi: Anak atau remaja yang mengalami kesulitan dalam mengelola emosi dan stresnya mungkin lebih rentan terhadap perilaku agresif atau destruktif.
Pengaruh teman sebaya: Remaja sering dipengaruhi oleh teman sebayanya. Bergabung dengan teman-teman yang terlibat dalam perilaku kriminal, hal ini dapat memicu si anak untuk ikut terlibat kriminal pula.
Faktor Sosial dan Ekonomi:
Kemiskinan dan ketidaksetaraan:Â Faktor-faktor sosioekonomi, seperti kemiskinan, ketidaksetaraan, dan ketidakstabilan sosial, dapat menciptakan kondisi yang memperburuk risiko perilaku kriminal oleh anak.
Paparan terhadap lingkungan berisiko tinggi: Lingkungan yang sarat dengan kejahatan, narkoba, atau kekerasan dapat memengaruhi perilaku anak atau remaja yang tumbuh di tempat itu.
Faktor Pendidikan:
Kegagalan dalam pendidikan:Â Prestasi akademik anak yang buruk atau pengalaman kegagalan di sekolah dapat mengarah pada perilaku merusak oleh anak dan remaja.
Nah, penting dicatat bahwa seringkali faktor-faktor tersebut ini, pada praktik sosialnya saling mengelindan, berkaitan satu sama lain, dan masalah perilaku anak atau remaja seringkali kompleks.
Menurut penulis, pendekatan terhadap penanganan tindakan kekerasan atau perilaku kriminal oleh anak atau remaja harus memperhitungkan faktor-faktor di atas.Â
Lagipula, penting untuk melibatkan peranan berbagai pihak, seperti konselor, psikolog, dan pekerja sosial, terutama untuk memberikan perawatan, dukungan, dan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan anak anak yang mengalami masalah sosial atau masalah kriminal ini.
Lalu, Apa Solusinya?Â
Solusi untuk mengatasi perilaku kekerasan atau perilaku kriminal oleh anak atau remaja, secara sosiologis perlu melibatkan pendekatan menyeluruh dan berkelanjutan. Menurut catatan penulis, beberapa solusi yang mungkin dapat diupayakan, meliputi:
Pendidikan dan Kesadaran:
Pendidikan tentang konsekuensi perilaku kriminal dan kekerasan perlu disosialisasikan di sekolah dan masyarakat. Program-program kesadaran yang mendidik anak-anak tentang dampak negatif tindakan mereka dapat membantu mencegah perilaku tersebut. Misalnya, sosialisasi tentang risiko hukum jika anak terlibat tindakan kriminal.
Intervensi Keluarga:
Memberikan dukungan dan pelatihan bagi orangtua agar mereka dapat memberikan pengasuhan yang sehat, disiplin yang konsisten, dan cinta kasih kepada anak-anak mereka. Terapi keluarga juga dapat membantu mengatasi masalah dalam hubungan keluarga.
Kesehatan Mental dan Konseling:
Anak atau remaja yang mengalami masalah kesehatan mental perlu mendapatkan perawatan yang sesuai. Terapi kognitif perilaku dan terapi lainnya misalnya, tentu dapat membantu mereka mengatasi masalah emosional dan perilaku.
Intervensi Sekolah:
Sekolah dapat berperan dalam mendeteksi dan mengatasi perilaku masalah. Program-program yang mendukung perkembangan emosi dan sosial, serta pelatihan keterampilan berpikir kritis, dapat membantu mencegah perilaku kriminal.
Program Pembinaan dan Rehabilitasi:
Menyediakan program pembinaan dan rehabilitasi bagi anak atau remaja yang telah terlibat dalam perilaku kriminal dapat membantu mereka mengubah perilaku mereka. Program-program ini dapat mencakup pelatihan keterampilan, dukungan emosional, dan pemahaman dampak tindakan mereka.
Pencegahan Lingkungan:
Meningkatkan keamanan dan kualitas lingkungan sosial di mana anak-anak dan remaja tumbuh. Ini termasuk upaya untuk mengurangi paparan mereka terhadap lingkungan berisiko, seperti kejahatan dan narkoba.
Keterlibatan Masyarakat:
Masyarakat sekitar perlu terlibat dalam upaya pencegahan. Contohnya misalnya, melibatkan program-program pemuda, kegiatan olahraga, klub buku, atau kegiatan positif lainnya yang memberikan alternatif yang sehat bagi perilaku destruktif anak atau remaja.
Hukuman yang Dapat Diterima:
Sistem hukum positif juga harus memberikan hukuman yang sesuai dan mendidik daripada hanya menghukum. Misalnya, penerapan program rehabilitasi dan koreksi untuk anak-anak dan remaja.
Konseling Psikologis:
Penting untuk menyediakan layanan konseling atau dukungan psikologis untuk anak atau remaja yang mengalami masalah perilaku kriminal. Hal ini akan membantu mereka memahami akar penyebab perilaku mereka dan mengembangkan strategi untuk mengatasi masalah tersebut.
Kerja Sama Lintas Sektoral:
Kerja sama antara lembaga pendidikan, keluarga, komunitas, dan sistem hukum adalah kunci dalam mengatasi perilaku kekerasan dan kriminal pada anak dan remaja. Koordinasi upaya dari berbagai pihak akan memungkinkan solusi yang lebih efektif.
Tentu saja, solusi yang tepat akan bervariasi tergantung pada kasus individu dan faktor penyebab yang mendasari perilaku kriminal itu. Jadi, penting untuk mengkonsultasikan kasus-kasus ini dengan profesional kesehatan mental, pekerja sosial, atau ahli lain yang dapat memberikan panduan dan dukungan yang sesuai.
Contoh solusinya di lingkup keluarga, misalnya bagaimana?
Di lingkup keluarga, ada berbagai solusi yang dapat diimplementasikan untuk mengatasi perilaku kekerasan atau perilaku kriminal oleh anak atau remaja. Menurut penulis, beberapa contoh solusi yang dapat diterapkan di lingkup keluarga, misalnya:
Komunikasi Terbuka:Â Membangun komunikasi yang terbuka antara anggota keluarga sangat penting. Dukung anak atau remaja untuk berbicara tentang perasaan, masalah, atau tekanan yang mereka alami tanpa takut dihakimi atau dicela.
Model Perilaku Positif:Â Orangtua dan anggota keluarga lainnya harus menjadi contoh perilaku positif. Menunjukkan cara menyelesaikan konflik dengan damai dan mengelola emosi secara sehat dapat memberikan contoh yang baik bagi anak-anak.
Disiplin yang Konsisten: Terapkan aturan dan disiplin yang konsisten. Anak atau remaja perlu tahu bahwa ada konsekuensi untuk perilaku yang tidak pantas.
Pendekatan yang Empatis: Cobalah untuk memahami perasaan dan perspektif anak atau remaja. Empati dapat membantu membangun hubungan yang lebih kuat dan membantu mereka merasa didengar dan dipahami.
Mendukung Perkembangan Emosi:Â Bantu anak atau remaja dalam pengembangan keterampilan pengendalian emosi, penyelesaian konflik, dan komunikasi yang sehat.
Pendidikan Keluarga: Pelajari bersama tentang masalah perilaku dan kesehatan mental. Memahami akar penyebab perilaku anak atau remaja bisa membantu keluarga dalam menghadapinya bersama.
Konseling Keluarga:Â Pertimbangkan untuk mencari bantuan dari seorang konselor keluarga atau terapis yang dapat membantu keluarga dalam mengidentifikasi masalah anak dan mencari solusi bersama.
Pengawasan yang Sehat: Berikan pengawasan yang sehat bagi anak atau remaja. Misalnya, mengetahui di mana mereka berada, dengan siapa, dan apa yang mereka lakukan adalah cara untuk menjaga mereka dalam lingkungan yang aman.
Waktu Berkualitas:Â Luangkan waktu berkualitas untuk terlibat bersama anak atau remaja. Misalnya, berbicara, bermain, atau melakukan kegiatan yang disukai anak bersama anggota keluarga.
Menjalin Hubungan yang Kuat:Â Bantu anak atau remaja merasa dicintai, diterima, dan diberdayakan. Hubungan yang kuat antara orangtua dan anak atau antara saudara-saudara dapat membantu mencegah perilaku negatif.
Perencanaan Keluarga:Â Keluarga dapat bersama-sama merencanakan cara menghadapi masalah, mengatasi konflik, dan mengambil keputusan yang baik.
Penting untuk diingat bahwa setiap keluarga adalah unik, dan solusi yang efektif dapat bervariasi. Konsultasikan dengan profesional kesehatan mental atau konselor keluarga jika kita kesulitan dalam mengatasi perilaku kekerasan atau perilaku kriminal anak yang mungkin terjadi dalam keluarga.
Artinya, dengan dukungan yang tepat dan komitmen untuk perubahan positif pada anak, keluarga dapat mengatasi masalah tersebut bersama-sama.
Catatan AkhirÂ
Dalam menghadapi perilaku kekerasan atau perilaku kriminal oleh anak atau remaja, perlu diambil langkah-langkah yang komprehensif dan berkelanjutan. Misalnya, melibatkan kerja sama berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, komunitas, dan profesional kesehatan mental.
Sekali lagi, merangkum ulasan ini, beberapa poin penting yang dapat diambil sebagai kesimpulan, antara lain:
Identifikasi Akar Penyebab: Penting untuk memahami akar penyebab perilaku kekerasan atau kriminal oleh anak atau remaja. Faktor seperti lingkungan keluarga, kesehatan mental, pengaruh teman sebaya, dan faktor sosial ekonomi dapat memainkan peran.
Pendekatan Holistik:Â Solusi yang efektif melibatkan pendekatan yang holistik. Ini termasuk dukungan dari keluarga, sekolah, dan komunitas, serta intervensi profesional yang sesuai.
Pendidikan dan Kesadaran:Â Mendidik anak atau remaja tentang konsekuensi perilaku mereka adalah langkah penting dalam mencegah tindakan yang tidak pantas.
Intervensi Keluarga:Â Peran keluarga sangat penting dalam mempengaruhi perilaku anak atau remaja. Komunikasi yang terbuka, dukungan, dan pendekatan yang empatik dapat membantu menciptakan lingkungan yang positif.
Pendekatan Kesehatan Mental:Â Perhatian terhadap kesehatan mental anak atau remaja adalah penting. Terapi dan dukungan psikologis dapat membantu mereka mengatasi masalah emosi.
Kerja Sama Lintas Sektoral:Â Kerja sama antara berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, komunitas, dan lembaga kesehatan mental, adalah kunci untuk menangani masalah ini secara efektif.
Perubahan Perilaku Positif: Mendorong perubahan perilaku positif melalui pendidikan, pembinaan, dan dukungan merupakan solusi yang konstruktif.
Pencegahan Lingkungan:Â Menciptakan lingkungan yang aman dan positif di sekitar anak atau remaja dapat membantu mencegah terjadinya perilaku kriminal oleh anak atau remaja.Â
Bantuan Profesional: Dalam beberapa kasus, bantuan dari profesional kesehatan mental, konselor keluarga, atau terapis mungkin diperlukan untuk memberikan panduan yang tepat.
Komitmen dan Kesabaran:Â Penanganan masalah ini memerlukan komitmen dan kesabaran. Perubahan perilaku seringkali memerlukan waktu dan upaya bersama.
Pendeknya, penanganan perilaku kekerasan atau kriminal oleh anak atau remaja adalah tugas yang kompleks dan memerlukan pendekatan yang komprehensif dari semua pihak.
Akhir kata, penulis optimis bahwa segala dukungan yang tepat dan usaha bersama dari semua pihak yang peduli pada masalah sosial anak ini, pasti dapat mengatasi masalah sosial anak dan menjadikan masa depan anak anak kita di Indonesia menjadi lebih baik dan positif.
Pepatah latin mengatakan: Utinam! Artinya: semogalah demikian!
SELESAI -penulis adalah mantan mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik, pada FISIPOL UGM Yogyakarta.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI