DISKURSUS GAYA KEPEMIMPINAN CATUR MURTI RADEN MAS PANJI SOSROKARTONO: MORALITAS ANAK BANGSA DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Raden Mas Panji Sosrokartono adalah sosok penting dalam sejarah kepemimpinan di Indonesia, khusuanya dalam pergerakan social dan Pendidikan di Indonesia di abad ke-20. Ia adalah sosok pemikir yang kritis, pejuang kemanusiaan, dan juga pelopor perjuangan terkait hak-hak rakyat Indonesia. Gaya kepimpinan yang tidak hanya bersandar pada nilai-nilai moral secara universal menjadikan beliau sosok yang inspiratif dan mampu mendorong anak bangsa untuk mengembangkan potensi diri mereka dengan menekankan etika dalam setiap tindakan yang selaras dengan nilai-nilai filosofis Kejawen.
A. Apa yang Dimaksud dengan Nilai Filosofis Kejawen?
Nilai filosofis Kejawen merupakan pandangan hidup yang tumbuh dalam masyarakat Jawa, menekankan perjalanan spiritual dan pengembangan diri menuju kesempurnaan. Salah satu elemen utama dalam filosofi ini adalah proses empat tahap yang dilalui oleh tokoh Werkudara (Bima) dalam kisah Dewaruci. Keempat tahap ini menggambarkan transformasi manusia dari kondisi biasa menjadi individu yang ideal dan berintegritas.
a. Syariat (Laku Raga / Sembah Raga)
Tahap pertama ini fokus pada pemahaman dasar mengenai ajaran agama dan etika. Syariat mencakup aturan dan tata cara ibadah yang harus dipatuhi. Dalam konteks ini, laku raga menunjukkan praktik fisik dan ritual yang membantu manusia menyadari pentingnya keberadaan Tuhan dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
b. Tarekat (Laku Budi / Sembah Cipta)
Di tahap ini, manusia mulai mengeksplorasi makna mendalam di balik ajaran dan praktik yang ada. Tarekat melibatkan introspeksi dan pengembangan karakter, di mana laku budi mengajak manusia untuk bertindak dengan kesadaran penuh, menekankan moralitas, dan berusaha untuk menjadi individu yang lebih baik. Sembah cipta berhubungan dengan kreativitas dan upaya untuk mengoptimalkan potensi diri dalam menjalani kehidupan.
c. Hakikat (Laku Manah / Sembah Jiwa)
Hakikat adalah tahap di mana manusia mulai memahami esensi dari segala hal, termasuk hubungan antara diri, Tuhan, dan alam semesta. Laku manah mencerminkan kedalaman pemahaman yang diperoleh melalui pengalaman dan refleksi, sedangkan sembah jiwa menekankan kesadaran spiritual yang mendalam. Pada tahap ini, manusia dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam berbagai aspek kehidupan.