(gambar dari Tribunenews.com)
ASAL USUL SOTO DARI MANA
Oleh: Anthony Hocktong Tjio.
Ada yang bilang asal usul Soto dari makanan Tionghoa Semarang. Sebelum menganggukkan kepala, apa ada yang menanyakan dimana bekas-bekasnya ‘caudo’ itu, dan bagaimana mungkin bisa menjadi makanan yang diterima oleh nasional Indonesia sekarang?
Memang boleh diakui bahwa makanan kita sehari-hari banyak pengaruh dari masakan asal Tionghoa, tetapi satu makanan nasional ini, baik namanya maupun resepnya, Soto Madura dan segala soto pada umumnya, pasti bukan yang menyasar dari Tiongkok, karena boleh coba saja mencarinya, dimanapun memang tidak ada dan bagaimanapun tidak pernah ada disana.
Masakan Tionghoa pada umumnya berasalkan dari pesisir selatan Tiongkok yang menyebar dengan kedatangan Hoakiaw di Nusantara selama ratusan tahun belakangan ini. Dari Hokkian dibawakan bakmi, dari Hakka dibawakan bakso, dari Kanton dibawakan cap-cai, dan dari Hainan, kaum Muslim Utsul membawakan masakan asam manis. Hanya saja dari Tiongkok tidak pernah ada masakan yang menggunakan rempah-rempah yang merupakan bahan utamanya soto. Yang pasti pula, soto bukan masakan nyonya peranakan maupun nyai seperti lontong cap-go-meh.
Mencari sumber mata air-nya soto, pertama-tama perlu menelusuri bengawan riwayat pembentukan bangsa Indonesia sampai di India, tepatnya: Tamil Nadu di India Selatan.

Pada awalnya disekitar 2200 tahun lalu, berbagai golongan orang Tamil dari Kerajaan Hindhu Kalinga India Selatan didesak untuk melarikan diri ke-Nusantara, akibat kekuatan Kerajaan Maurya Maharaja Ashoka yang menganut Buddhisme bangkit dinegaranya. Diantara Tamil Hindhu tersebut ada tiga golongan utama yang mencapai Nusantara: Golongan Ksatria (militer) yang meng-kolonisasi dan mendirikan kerajaan-kerajaan Dravidian di Nusantara, seperti Kerajaan Funan di Kambodia dan Kerajaan Kalinga di Sumatra dan Jawa; yang Golongan Vaisya (pedagang) itu menemukan bahan mineral dan metal mulia di Nusantara sehingga menamakannya Suvarnabhumi dan Suvarnadvipa (bumi dan pulau emas) dan mereka ini yang mendatangkan rempah-rempah bahan kare.
Bahan kare yang semulanya untuk konsumsi orang sebangsanya sendiri dari India Selatan itu, yang menjadikan sangat mempengaruhi kuliner Nusantara sampai sekarang.Â
Golongan Hindhu Tamil yang ketiga adalah Brahmana (pendeta), datang dengan misi penyebaran ajaran Hindhuisme yang membawa kebudayaan dan ritual upacara mereka, mendirikan candi-candi, memperkenalkan sastra klasik dan menggunakan bahasa Sanskrita yang banyak menjadi dasar bahasa Indonesia, sehingga juga dipakai untuk penamaan orang-orang Thailand, Kambodia dan Jawa, juga nama tempat-tempat daerah dan universitas-universitas sampai sekarang.