Kompasiana-Penggunaan Paylater menimbulkan pro dan kontra akan dampak negatif yang ditimbulkan dari efek kecanduan menggunakan kredit digital ini.
Baca juga:5 Kebiasaan yang Bikin Kamu Susah Kaya, Simak Apakah Kamu Salah Satunya!
Popularitas Paylater
Popularitas praktik belanja online melalui market place seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada kian meningkat di kalangan masyarakat, apalagi semenjak dikeluarkannya fitur-fitur baru yang menarik minat pengguna platform tersebut untuk berbelanja. Salah satunya seperti kemunculan fitur metode pembayaran Paylater.
Istilah Paylater mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pencinta belanja online. Tak sedikit dari mereka ikut berpartisipasi dalam menggunakan kemudahan metode transaksi pembayaran ini.
Namun dibalik kemudahan yang diklaimnya, ternyata keberadaan Paylater menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat loh.
Sebagian dari mereka merasa khawatir dengan kehalalan dari praktik kerja metode pembayaran ini. Sementara itu disisi lain ada juga yang merasa takut kecanduan berhutang dan takut terkena bunga tinggi serta mendapat biaya pinalti karena keterlambatannya saat mencicil.
Tak heran banyak yang menganggap bahwa kebiasaan belanja dengan menggunakan metode pembayaran Paylater ini harus segera di hentikan.
Tapi... sebenarnya apa sih Paylater itu?
Semenjak kemunculannya, fitur Paylater yang dibuat oleh beberapa platform market place seperti salah satunya adalah Shopee yang menciptakan Shopeepaylater untuk menarik banyak perhatian pengguna agar tergiur dengan kemudahan-kemudahan yang ditawarkannya dalam berbelanja.
Kemudahan-kemudahan yang dimaksud adalah metode bayar nanti atau dengan kata lain mirip dengan praktik belanja secara kredit. Istilahnya Paylater ini mirip dengan kartu kredit namun versi digital dan tidak memiliki tanda bukti fisik. Selain itu pengajuanya juga lebih mudah daripada pengajuan kartu kredit yang bisa saja tidak disetujui secara langsung oleh pihak Bank.