Suamiku,
Alhamdulillah, tahun ini pernikahan kita baru 10 tahun. Akhir-akhir ini aku makin merasakan betapa berartinya dirimu bagiku dan tentu saja bagi anak-anak kita. Namun, di sisi lain aku juga khawatir... nasihat seorang teman: Cintailah suamimu tapi jangan sampai membuat Allah menjadi cemburu karenanya. Subhanalloh, kata-kata itu mengingatkanku bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Bahwa seharusnya cinta kepada Allah adalah suatu hal yang paling menjadi prioritas utama. Memang, aku mengkhawatirkan diriku yang terlalu posesif pada dirimu. Padahal engkau bukan milikku, namun milik Allah semata. Aku sering memikirkan hal ini. Bahkan saat tengah malam, aku memandangi wajahmu yang terlihat tertidur lelap. Saat itu aku berpikir, apakah besok aku akan bisa melakukan ini lagi? Memandangi wajahmu dan kemudian menenggelamkan diriku dalam pelukanmu? Saat itu aku memang merasa bahagia, tapi aku juga merasa cemas. Bukan karena tidak yakin dan beriman pada takdir Allah, tapi aku merasa belum puas hidup bersamamu. Akankah aku dan dirimu akan mengalami bersama usia pernikahan 10 tahun kedua, ketiga, dan seterusnya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Tapi yang pasti saat ini aku sangat merindukan dirimu yang kini sedang dinas ke luar negeri. Memang hanya untuk seminggu, tapi rasanya waktu berjalan sangat lambat. Aku mencoba menyibukkan diri dengan mengerjakan pekerjaan kantor di rumah, saat anak-anak sudah tertidur. Kadang aku menangis dan mengharapkan diriku semestinya tidak terlalu tenggelam dalam cinta kepada engkau, suamiku. Tapi, bukankah cinta itu anugrah dari Allah? Aku hanya berharap cinta ini tidak membuat aku lalai dan menomorduakan cinta Allah.
Suamiku,
Aku masih berusaha bahwa cintaku yang paling utama adalah kepada Allah. Terkadang aku mencoba untuk menetralisir perasaan cintaku kepadamu dengan melakukan muhasabah dan merenungkan bahwa hidup ini hanya sementara. Jadi jangan’terlibat’ terlalu jauh dengan perasaan cinta pada manusia. Aku berharap dan berdoa kepada Allah bahwa perasaan cintaku yang memang makin tumbuh kepadamu tidak melenceng dari ketentuan Allah. Aku berharap kepada Allah, yang menumbuhkan dan menyuburkan rasa cinta ini, agar senantiasa melindungiku dari perasaan cinta yang terlalu berlebihan kepada makhluknya. Jika memang Allah menghendaki, aku meminta kepadaNya agar engkaulah jodohku di dunia dan di akhirat kelak.
Suamiku,
Apakah engkau merasakan hal yang sama ?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H