Ramadhan bukan hanya sekedar menjalankan ibadah puasa dan tarawih, tetapi merupakan momentum untuk meningkatkan semangat ibadah dan kreativitas anak-anak. Bagi mereka, tentunya bulan ramadhan merupakan waktu yang sangat menyenangkan. Maka penting bagi kita untuk mendukung dan menjadikan ramadhan ini sebagai wadah untuk mengembangkan kreativitas mereka.
Dalam meningkatkan kreativitas, masjid Nur Farhan berkontribusi menyelanggarakan pesantren ramadhan bagi anak-anak sekitar masjid sejak awal bulan ramadhan kemarin. Para mahasiswa yang membuka pesantren ramadhan ini, untuk mengisi kegiatan di bulan ramadhan dengan melakukan hal-hal yang positif di TPA Nur Farhan, Papringan, Yogyakarta. Pengajar yang ada rata-rata merupakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang memiliki waktu luang di bulan ramadhan. Sementara santri TPA merupakan anak-anak dari warga sekitar masjid.
TPA Nur Farhan tidak hanya mengajarkan bagaimana membaca al-quran dengan benar seperti mengaji dan menghafal setiap hari, tetapi juga memberikan refresh bagi para santrinya setiap akhir pekan. Dengan begini, para santri tidak akan merasa bosan dengan pembelajaran yang diberikan. Jumlah mahasiswa pengajar di sana sekitar 21 orang. Dengan jumlah yang cukup banyak ini, pihak takmir menyetujui diadakannya pesantren ramadhan, hingga dijadikanlah jadwal mengajar secara bergantian.
Setelah menyelanggarakan lomba kaligrafi dan mewarnai minggu lalu, para mahasiswa yang menjadi pengajar di TPA Nur Farhan kembali memancing kreativitas anak-anak dengan membuat gantungan kunci dari clay yang mereka bentuk sendiri, dan nantinya akan diberikan pada mereka juga.
Menurut Guntur (salah satu pengajar di TPA Nur Farhan) Dengan memberikan kebebasan kepada para santri TPA dalam mengkreasikan clay menjadi berbagai macam bentuk yang ada dalam imajinasi mereka, akan memberikan ruang bagi anak-anak untuk melatih kreativitas mereka yang memang sedang di masa pertumbuhan. Alasan mengapa memilih kerajinan dengan clay dibanding bahan yang lain, yaitu para pengajar TPA yang merupakan gen z ingin membuat para santri lebih antusias mengikuti kegiatan ini. Maka mereka memilih clay, yang saat ini sedang naik-naiknya dibanding bahan kerajinan lain seperti kertas, dan lain-lain. Selain itu, dengan penggunaan clay juga bisa mengurangi kemubadziran jika bahan yang dipakai tidak habis, sehingga tidak mengotori masjid. Dan jika masih ada clay yang tersisa, bisa dibawa pulang oleh anak-anak untuk kembali berkreasi di rumah masing-masing.
Kerajinan gantungan kunci juga cukup mudah dibuat untuk anak-anak. Selain itu, gantungan kunci ini juga bisa mereka pakai dan simpan setelah mengeras. Dengan kemampuan tanggap yang anak-anak miliki, mereka bisa dengan mudah membentuk clay sesuai keinginan mereka, meski beberapa harus dibantu dengan kakak-kakak pengajar.
Meskipun hasil dari kerajinan clay mereka bermacam-macam, namun tidak mengurangi pengaruh bagaimana proses mereka dalam mengambil keputusan untuk membuat bentuk apa dari clay yang diberikan. Dengan begini mereka akan terlatih agar tidak takut dan mau mencoba hal-hal baru meskipun harus gagal terlebih dahulu nantinya.
Tema yang diangkat oleh para pengajar di TPA Nur Farhan dalam berkreasi membuat gantungan kunci dari clay dengan menghubungkannya pada nilai-nilai ramadhan. Masjid dan TPA bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga wadah bagi semua orang terutama anak-anak sekitar untuk mengekspresikan dirinya dengan bebas.

Kegiatan ini diadakan khusus untuk santri TPA, dan clay yang di berikan juga merupakan hak milik mereka dari awal. Sehingga tidak ada yang merasa di rugikan dengan adanya kegiatan ini. Para pengajar juga memandu dan mendampingi para santri dengan sangat baik dan menyenangkan. Dalam pendampingan di setiap mengaji ataupun kegiatan lomba seperti ini, para pengajar di TPA Nur Farhan selalu memberikan cerita-cerita islami yang memotivasi dan memancing emosi anak-anak untuk menerapkan nilai-nilai agama dalam kesehariannya.