Desa Ranu Pani dan Masyarakat Suku Tengger
Desa Ranu Pani, yang berada di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut, menawarkan pesona alam khas pegunungan. Terletak di lereng Gunung Semeru, desa ini dikelilingi perbukitan hijau serta dua danau indah, Ranu Pani dan Ranu Regulo, yang menambah keasriannya.
Masyarakat setempat, Suku Tengger, memiliki ciri khas fisik seperti pipi kemerahan dan mata kecoklatan, yang merupakan bentuk adaptasi terhadap suhu dingin. Mereka juga menjaga tradisi leluhur, termasuk upacara Yadnya Kasada di Kawah Gunung Bromo, yang menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.
Selain keindahan alam dan budayanya, keramahan warga Ranu Pani membuat setiap pengunjung merasa diterima dengan hangat. Suasana tenang dan kesejukan udara di desa ini menjadikannya tempat yang ideal untuk menikmati harmoni antara manusia dan alam.
Sejarah Berdirinya MI Thariqul Huda Sekolah Islam Pertama di Desa Ranu Pani
Tahun 2019 adalah awal berdirinya MI Thariqul Huda, sekolah dasar berbasis islam pertama di Desa Ranu Pani. Sekolah ini hadir menjawab kegelisahan Masyarakat terkait Pendidikan berbasis islam yang sangat minim kala itu, pada awal berdirinya menempati sebuah bangunan milik RA Perwanida 01 Ranu Pani yang beralamat di Jl.Raya Ranu Pani Dsn.Besaran Ranu Pani. Di tahun 2020, dimulailah Pembangunan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana sederhana di atas tanah wakaf pemberian warga Desa Ranu Pani yakni bapak Edi Krisna. Berawal dari 6 siswa pertama, hingga saat ini mencapai 22 siswa.
MI Thariqul Huda merupakan lembaga sekolah dasar di bawah naungan Kementrian Agama Republik Indonesia dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. MI Thariqul Huda telah melaksanakan tiga kali proses akreditasi madrasah dari Badan Akreditasi Nasional SD /MI (BAN SD MI) Â sebagai bentuk evaluasi dan penilaian menyeluruh dari seluruh proses belajar mengajar yang dilaksanakan di MI Thoriqul Huda. Penilaian terakhir dilaksanakan pada tahun 2018 dan mendapatkan nilai 87 dengan nilai akreditasi B.
Meskipun fasilitas dan tenaga pendidik di sekolah ini terbatas, para guru memiliki dedikasi yang sangat tinggi terhadap pendidikan. Hal ini terbukti dari jarak yang harus mereka tempuh setiap hari, yaitu sekitar 30-40 km untuk sampai ke sekolah. Karena jarak yang jauh, sistem pengajaran di MI Thoriqul Huda berbeda dari sekolah pada umumnya. Para guru tidak mengajar setiap hari, melainkan hanya satu kali dalam seminggu, sesuai dengan jadwal mengajar yang telah ditentukan.
Selain itu, karakter khas Suku Tengger yang memiliki fisik kuat sebagai warga pegunungan mengharuskan para guru untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran. Mengingat anak-anak di daerah tersebut terbiasa dengan aktivitas fisik yang lebih intens, kegiatan yang melibatkan gerakan menjadi penting dalam proses belajar. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan energi yang mereka miliki, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Sistem Sekolah Dipandang Berlebihan Oleh Masyarakat ?