Masyarakat menjadi optimis untuk melakukan aktivitas di luar. Masyarakat berpikir bahwasanya virus ini hanyalah soal bagaimana kekebalan tubuh seseorang mampu bertahan menghadapi patogen dalam virus ini. Varian ketiga Omicron juga menunjukkan gejala serta efek yang membutuhkan penanganan lebih ringan dibandingkan dengan dua varian sebelumnya. Pemerintah Indonesia juga  mulai menghapus aturan untuk melakukan tes antigen dan PCR untuk setiap aktivitas masyarakat baik kegiatan publik ataupun aktivitas perjalanan.
Sesuai surat edaran kementerian perhubungan no 25 tahun 2022 pada poin 5 di surat edaran tersebut menyatakan juga bahwasanya untuk moda transportasi perkeretaapian antar kota tidak diperlukan kembali test antigen dan PCR apabila sudah memenuhi vaksin dosis 2. Kenyataannya dosis lengkap vaksin juga tidak menjamin seseorang tidak akan terdampak virus corona lagi. Pada kondisi kekebalan tubuh atau imun yang sedang menurun seseorang akan gampang terkena virus ini.
Fenomena pelonggaran aturan yang diterapkan pemerintah tidak boleh membuat kita lengah terhadap adanya virus corona. Baiknya selama tidak membatasi aktivitas masyarakat dan kegiatan public yang terlalu mengikat, protokol kesehatan harus tetap dilakukan dengan didukung oleh kesadaran masyarakat terhadap adanya keberadaan virus tersebut.Â
Apabila ke depannya pelonggaran terjadi ada baiknya masyarakat terap memperhatikan protokol kesehatan agar tidak sembrono dalam melakukan kegiatan public sehingga tidak banyak yang dirugikan.Â
Penghapusan aturan perjalanan dengan tes antigen 1x24 jam atau PCR 3x24 jam dengan dosis vaksin lengkap merupakan salah satu kelonggaran yang tentunya akan membuat lonjakan jumlah perjalanan dalam negeri. Belum lagi apalagi phsycal distancing jadi dihapus masyarakat akan semakin leluasa beraktivitas. Jangan sampai yang nantinya sudah bisa sedikit kembali keadaan normal berubah menjadi ledakan pandemi kembali.
Memakai masker, menjaga jarak ,mencuci tangan sudah biasa kita lakukan dalam dua tahun terakhir ini. Terlepas dari ada atau tidaknya virus corona , 3M ini bukanlah hal yang merepotkan atau merugikan selama kita bisa memandang positif efek ke depannya.Â
Memakai masker bisa melindungi kita dari polusi udara, penyakit menular melalui udara, memitigasi risiko penularan penyakit dari saluran pernafasan. Menjaga jarak juga bukan hal yang merugikan di mana banyak hal positif yang juga bisa kita ambil dari menjaga jarak walaupun tidak segenting dengan pemakaian masker dan menjaga kebersihan tubuh. Menjaga jarak membantu kita untuk lebih merasa secure terhadap intensitas kontak fisik dengan orang lain.
Satu klaim besar yang disampaikan  oleh Richard horton dalam jurnal ilmiah The Lancet dalam sebuah komentar yang dirilis tanggal 26 September 2020 bahwasanya horton menilai yang di fokuskan adalah bagaimana pemotongan laju penularan virus tersebut dapat diatasi.Â
Secara ilmu epidemiologi selama berabad abad menunjukkan bahwasanya memutus rantai penularan adalah cara cepat memutus penularan wabah penyakit. Sindemi bukan hanya soal memutus rantai penyebaran wabah penyakit, melainkan bagaimana kita tetap konsisten menjaga protokol kesehatan agar tidak timbul ketimpangan sosial yang menyebabkan ledakan virus tersebut kembali.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H