Seperti yang kulakukan pagi buta hari ini. Ungkapan kangen dari sejawat lelaki yang sudah beristri langsung kujawab dengan kata-kata menohok.
"Oh ya? Silahkan diberikan pada istri anda."
Sesudah memberikan jawaban, langsung kublok nomornya. Tak ingin tahu apapun jawaban darinya. Marah atau makin menyerang aku tak peduli lagi. Perkara nanti akan bertemu muka bakal kuhadapi. Berharap tak ada pembicaraan di luar urusan pekerjaan, kalaupun ada telah kusiapkan berjuta alasan jawaban.
Hidupku sudah susah, lelaki beristri adalah masalah. Aku tak mau disebut pelakor atau semacamnya. Bahkan bilapun ada yang berkata sudah mendapat izin istri untuk poligami. Itu kuhindari betul.
Cermin waspada selalu mengingatkan, " Kau perempuan, pasti tahu betul sakitnya diduakan. Maka jangan lakukan godaan. Apalagi merebut suami kaummu sendiri."
Ah dy, pagi ini aku menghadap lagi kaca rias lebih lama dari biasanya. Lajur-lajur uban tumbuh di mana-mana. Menghiasi kening dan atas kuping. "Sudah tua diriku."
Senyum di bibir tidak mengurangi rasa tua. Hanya lebih segar saja. Senyum memang bikin hati berbunga, sedikit tawa ceria terlihat lebih muda.
"Umik sudah pantas menimang cucu, kuberikan ya?"
Dih, sulungku jagoan yang rupanya mengamati  membuatku tersipu. Iya, aku sudah tua. Kenapa pula terlibat urusan cinta-cinta. Menimang cucu, dipanggil nenek tentu akan lebih membahagiakan dibanding mendapat cap sebutan panggilan pelakor, perebut laki orang.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H