Kurikulum 2013 mata pelajaran Sejarah Indonesia memuat Konsep Perubahan dan berkelanjutan pada materi  konsep berfikir sejarah. Konsep perubahan dan berkelanjutan dapat dijelaskan secara kontekstual melalui contoh-contoh sejarah local misalnya, kasus Sejarah Runtuhnya Kota Pelabuhan. Ruang untuk materi sejarah local dalam kurikulum 2013 sangatlah terbatas namun dalam pengembangan silabus dimungkinkan untuk memasukkan materi-materi sejarah lokal.
Konsep perubahan dan keberlanjutan yang diharapkan muncul pada siswa adalah pemahaman tentang kronologi, proses perubahan, proses keberlanjutan serta periodesasi. Seixas  & Peck (2004) menjelaskan bahwa memahami perubahan dari waktu ke waktu adalah pusat pemikiran sejarah. Pemahaman tersebut dapat dicontohkan secara nyata dengan peristiwa Runtuhnya Kota Pelabuhan Panarukan. Pemahaman tentang kronologi dapat digali dari sejarah berdirinya Pelabuhan Panarukan, proses berkembang dan proses keruntuhannya. Pemahaman proses perubahan dapat digali dari perubahan fungsi Pelabuhan Panarukan dari masa ke masa. Pemahaman keberlanjutan dapat digali dari beralihnya Kabupaten Panarukan menjadi Kabupaten Situbondo. Terakhir pemahaman konsep periodesasi dapat digali dari kondisi Pelabuhan pada masa Majapahit, penjajahan kolonial, awal kemerdekaan dan masa kini.
Interaksi antara konsep perubahan dan kontinuitas pada  peristiwa Runtuhnya Kota Pelabuhan Panarukan menimbulkan sejumlah masalah bagi siswa. Mereka harus menganalisis perubahan besar dalam satu aspek sosial, politik, atau kehidupan ekonomi. Siswa juga dapat mengasumsikan lebih banyak kesinambungan dalam aspek kehidupan lain daripada yang dijamin.
Manfaat dari mempelajari konsep perubahan dan keberlanjutan disamping menggali pemahaman tentang kronologi, proses perubahan, proses keberlanjutan serta periodesasi juga dapat menggali pemahaman sejarah terdekat siswa. Dengan seperti ini akan menumpuhkan rasa bangga terhadap tempat lokal mereka atau tempat kelahiran mereka.
Menerapkan Konsep Perubahan dan Berkelanjutan pada Sejarah Runtuhnya Kota Pelabuhan Panarukan Menggunakan Historical Inquiry
Pembelajaran sejarah akan menarik apabila disajikan secara kontekstual. Kontekstual di sini lebih kepada fakta yang terdekat kepada siswa. Konsep perubahan dan berkelanjutan dapat dijelaskan menggunakan contoh kasus Runtuhnya Kota Pelabuhan Panarukan. Pembelajaran dapat menggunakan model Historycal Inquiry yaitu suatu proses penyelidikan yang dilakukan untuk memahami masa lalu. Langkah-langkah dalam proses penyelidikan termasuk mengajukan pertanyaan, menemukan dan menganalisis sumber dan menggunakan bukti dari sumber untuk mengembangkan penjelasan informasi tentang masa lalu. Beberapa kelebihan metode inkuiri menurut Hanafiah dan Suhana (2009) adalah sebagai berikut:
- membantu peserta didik untuk mengembangkan, kesiapan, serta penguasaan ketrampilan dalam proses kognitif,
- peserta didik memperoleh pengetahuan secara individual sehingga dapat dimengerti dan mengendap dalam pikirannya,
- dapat membangkitkan motivasi dan gairah belajar peserta didik untuk belajar lebih giat lagi,
- memberikan peluang untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing, dan
- memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses menemukan sendiri karena pembelajaran berpusat pada peserta didik dengan peran guru yang sangat terbatas.
Diagram Langkah Historical Inquiry
Langkah-langkah dalam pembelajaran konsep perubahan dan perkelanjutan pada Sejarah Runtuhnya Kota Pelabuhan Panarukan menggunakan historical inquiry antara lain:
Menyajikan Fenomena
Guru menyajikan fenomena melalui foto peninggalan atau peta Kota Pelabuhan Panarukan pada masa kolonial, misalnya:
Pelabuhan Panarukan. Sumber: Troopen Museum