Sabtu ini memang cukup melelahkan. Pekerjaan baru bisa selesai sekitat jam 10 malam. Waktunya untuk istirahat. Aku segera pulang. Jarak dari kantor ke rumah sebetulnya tidak terlalu jauh. Namun karena melewati perkampungan dan jalan-jalan kampung, perjalanan menjadi tidak bisa cepat.
Setelah beberapa menit aku melewati jalan kampung, aku melihat ada keramaian di depan. Ternyata ada pasar malam. Wah! Kebetulan sekali! Tadi aku belum sempat makan malam, sekalian mencari makanan saja.
Aku menjalankan motorku pelan-pelan sambil mencari penjual makanan. Tidak lama aku menemukan penjual mie rebus. Ah, tidak ada nasi, mie juga boleh deh. Apa lagi mie hangat akan lebih sedap.
“Pak, mienya satu. Tidak pedes ya. Makan di sini saja.” Kataku pada penjueal mie. Aku putuskan makan di tempat saja, kebetulan ada kursi-kursi kayu dan beberapa orang juga sedang lahap makan mie.
Tidak lama aku menunggu. Seporsi mie sudah siap aku lahap. Aromanya betul-betul sedap. Lebih-lebih lagi posisinya asyik, aku bisa makan sambil melihat odong-odong berlampu warna-warni dan beberapa penjual mainan. Banyak anak-anak bermain di sana.
Baru saja mie mau aku santap, tiba-tiba ada seekor kucing lari di atas bangku dan menabrak mie di depanku. Makanan yang sudah di depan mata-mata tiba-tiba jatuh di tanah. Mau berteriak, namun tidak sempat. Yahhh.... kalau sudah begini selera makan jadi rasa marah yang mengendap.
Penjual mie bergegas menemuiku.
“Waduh kasihan aden. Bapak ganti ya?” Katanya ramah.
“Sudahlah pak. Tolong bungkuskan satu saja ya.” Jawabku setengah menahan kesal karena kejadian itu.
Karena rasa kesal itu, aku langsung bergegas pulang. Maunya menikmati pasar malam, eh malah jadinya mendapat perasaan mau marah. Mau menyalahkan kucing ya tidak bisa, karena kucing kan tidak makan sekolahan. Ya sudahlah. Aku pulang saja.