Mohon tunggu...
Anggia putri ramadhani
Anggia putri ramadhani Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kisah Pilu Ibu Tuti Penjual Kerupuk Keliling

16 Januari 2024   11:29 Diperbarui: 16 Januari 2024   19:57 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bandung-Ibu Tuti penjual kerupuk kecimpring keliling yang bejualan di sekitar daerah pasar sayati kabupaten bandung, dan keliling keliling menawarkan kecimpring kerumah kerumah atau tempat makan, Ibu tuti hanya tinggal berdua dengan suaminya yang sedang sakit sakitan suaminya tidak bisa bekerja lagi karena suaminya mengalami kecelakaan tertabrak motor pada saat mencari rongsok pada tahun 2022, dan Ibu Tuti memiliki anak sematawayang yang kini sudah tiada.

Ibu Tuti tinggal di daerah katapang kabupaten Bandung, kurangnya ekonomi Ibu Tuti yang mengharuskan menempuh jarak yang lumayan jauh  berjualan kerupuk kicimpring untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama suaminya yang sedang sakit sakitan, karena suaminya yang sudah tidak bisa bekerja Ibu Tuti yang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, Ibu Tuti berangkat naik angkutan umum angkot dari rumah hingga tempat tujuan yaitu daerah pasar sayati, kabupaten bandung. Lalu jika kerupuknya belum banyak yang terjual Ibu Tuti keliling untuk menjual kerupuk nya hingga membawa hasil uang yang cukup untuk makan sehari hari, Ibu Tuti perhari membawa kerupuk Kicimpring sebanyak 15 Kerupuk, Ibu Tuti berjualan kerupuk kicimpring seharga Rp10.000 untuk pendapatan perharinya tidak menentu paling sedikit Rp30.000 perhari, paling banyak Rp50.000 - Rp70.000 perharinya karena Ibu Tuti mengambil Kerupuk dari orang, jadi tidak semua hasil Ibu tuti dapatkan Ibu Tuti hanya mengambil keuntungan Rp3.000 dari satu kerupuk ,Ibu Tuti berjualan dari pagi hingga sore karena harus mengurus suaminya yang sedang sakit. "paling saya bawa pulang kerumah uang Rp30.000-Rp40.000 perhari untuk saya makan sama suami saya" Ujar Ibu Tuti.

Kondisi suami Ibu Tuti kini harus mengalami sakit yang cukup parah, Suami Ibu Tuti dulu adalah seorang tukang rongsokan, yang kini terbaring lemah karena kakinya patah akibat kecelakaan pada tahun 2022 pada saat mencari nafkah menjadi tukang rongsokan dan sakit pembengkakan jantung yang dideritanya membuat Suami Ibu Tuti tidak bisa bekerja dan terbaring lemah dikasur , Kini Ibu Tuti dan Suami hanya tinggal di rumah sepetak yang dibilang kondisi rumahnya kurang baik, karena sekarang musim hujan sehingga rumah Ibu Tuti  bocor.  "Saya sama suami saya mah tinggal dirumah yang suka bocor karena sekarang musim hujan, tapi allhamdullilah karena masih ada tempat untuk tinggal, dan suami saya masih bisa beristirahat dirumah"Ujar Ibu Tuti.Ibu Tuti memiliki anak satu satunya yang kini anaknya pun sudah tiada, Anaknya wafat karena pada saat suami Ibu Tuti mengalami kecelakaan sang anak ikut untuk mencari rongsokan, sang anak masuk kedalam bak yang sedang di dorong oleh suami Ibu Tuti, pada saat terjadinya kecelakaan tersebut membuat sang anak terkena benturan yang hebat, sehingga nyawa anak Ibu Tuti yang tidak bisa diselamatkan. Pada saat Suami Ibu Tuti mencari rongsok, Ibu Tuti pun sedang berjualan kerupuk Kicimpring, karena penghasilan Suami Ibu Tuti, dan Ibu Tuti hanya bisa menghidupi kehidupan sehari harinya yaitu makan dan membeli minum jadi mereka yang harus saling membantu satu sama lain.

Kisah Pilu yang di hadapi oleh Ibu Tuti adalah kini Ibu Tuti harus menerima kenyataan karna ia harus berjuang untuk menghidupi kehidupan sehari harinya, harus berjuang mencari uang dengan berjualan kerupuk kicimpring, harus berjualan jauh tak kenal lelah meskipun kepanasan atau kehujanan karena jika  tidak ada yang terjual Ibu Tuti tidak bisa makan tidak bisa membeli obat untuk suaminya, Ibu Tuti harus menerima kenyataan pahitnya hidup suaminya yang sakit dan terbaring lemas dikasur tidak bisa apa apa, harus tinggal dirumah sepetak yang bocor jika hujan, Ibu Tuti juga harus kehilangan anak sematawayangnya dan jika Ibu Tuti tidak mendapat penghasilan ia harus makan seadanya."kadang saya sama suami saya hanya makan nasi saja, uang hasil pendapatan yang tidak banyak saya belikan beras agar saya sama suami saya tetep bisa makan" ujar Ibu Tuti. Ibu Tuti tidak masalah jika ia harus menahan lapar, akan tetapi Ibu Tuti tidak mau jika suaminya harus kelaparan.

Ditengah  Kehidupan Ibu Tuti yang pilu, ia tidak putus asa berjualan kerupuk kecimpring keliling, yang mana Ibu Tuti setiap hari harus membawa 2 kantong keresek besar yang berisikan 15 kerupuk kecimpring, mengharuskan Ibu Tuti berjualan cukup jauh dan mendapatkan pendapatan yang tidak seberapa, Meski hidupnya penuh dengan keterbatasan, Ibu Tuti tetap menunjukkan senyumnya yang hangat kepada setiap orang yang membeli kerupuk kecimpringnya, karena Ibu Tuti selalu bersyukur jika ada yang membeli, berati ia masih bisa melanjutkan hidup, untuk membeli makan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun