Masing-masing orang mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda yang dilakukannya hampir atau bahkan setiap hari. Tatkala ia sedang menyukai hal yang sedang diinginkannya, maka tak segan ia akan melakukan hal tersebut sampai benar-benar merasa puas. Dan lebih lagi bila ditularkan kepada teman, saudara, keluarga atau siapapun.
Tetapi tentu ini akan berdampak pada siapa saja yang melakukannya. Tak hanya orang terdekat. Dengan menularkan kebiasaan yang dimiliki pada orang lain pasti seseorang itu juga akan mengetahui pola dan gaya hidup kita sehari-harinya. Jika bentuk kebiasaan yang kita lakukan itu adalah untuk tujuan positif tidak masalah untuk ditiru oleh orang lain.
Misalkan saja, kita mempunyai kebiasaan untuk bangun pagi setiap hari dan melakukan olahraga kurang lebih 30 menit secara rutin. Serta kita juga membiasakan untuk sarapan bergizi dan bernutrisi seperti memakan buah-buahan dan sayura-sayuran, seperti itu kita lakukan setiap harinya. Maka itu seseorang yang mengetahui kebiasaan kita itu akan tidak segan untuk mengikutinya.
Tentunya ini akan membuat seseorang itu menjadi kagum dengan kita. Kok bisa ya, bangun pagi setiap hari? Kok bisa ya melakukan olahraga 30 menit secara rutin, kok bisa ya memakan buah dan sayuran sebagai sarapan? Nah, seperti itulah kira-kira yang akan dipertanyakan oleh orang yang melihat kebiasaan positif kita, dan pastinya orang itu akan menanyakan pada kita apa dan bagaimana tipsnya supaya dapat seperti itu setiap harinya.
Akan lain cerita bila yang kita lakukan adalah kebiasaan buruk. Ya memang bahwa kebiasaan buruk juga tidak terjadi pada Negara kita tercinta, Indonesia saja. Tetapi yakinlah bahwa kebiasaan buruk tersebut juga banyak sekali berada di berbagai belahan dunia. Dengan menerapkan pola dan gaya hidup yang buruk tentu akan berdampak lebih buruk lagi pada diri kita serta juga akan merugikan banyak orang lain.
Sebab entah mengapa seperti yang kita ketahui sekarang ini memang banyak sekali masyarakat Indonesia yang melakukan pola dan kebiasaan buruk hampir setiap harinya.Â
Saya pun juga tidak begitu paham tetapi pasti ada saja yang melakukannya. Contohnya saja, karena sekarang adalah era milenial alias teknologi super canggih beredar dan dimiliki oleh semua orang, maka ada saja beberapa orang atau bahkan anak-anak yang agak pasif dengan dunia sekitar.
Tidak ingin mengobrol satu sama lain, tidak ingin bermain bersama teman, selain itu mungkin bila ada yang membutuhkan pertolongan kadang kala juga tidak banyak yang menolongnya paling hanya beberapa saja, dan masih banyak lagi tentunya. Semua itu karena sibuk dengan gadget yang dipegang. Jika hal itu dibiarkan terus menerus maka kebiasaan si orang itu akan semakin jadi dan kemungkinan besar bisa menurun pada keluarganya.
Apalagi jika masih anak-anak. Tentu saja, anak-anak dengan usia yang masih sangat muda yang masih memiliki pola pikir minim, akan mudah terpengaruh oleh orang-orang sekitar. Lebih lagi jika orang tuanya sama sekali tidak menasihati dan mengawasi, kebiasaan buruk pada si anak akan semakin meraja lela dikemudian hari.
Maka itu sejak dini usahakanlah jangan meneruskan kebiasaan buruk tersebut, jika perlu benar-benar harus dirubah sejak dini. Jangan selalu bergantung dan terlena akan nikmatnya harta yang canggih dan bagus-bagus, kita juga harus memikirkan kepentingan orang lain dan saling membutuhkan satu sama lain.
Jangan menganggap bahwa zona nyaman itu akan selalu ada tetapi justru diraih. Karena jika kita ingin berada di zona nyaman kita harus berusaha keras dan berdoa, dan ketika kita sedang berusaha keras serta berdoa itulah kita berada di zona tidak nyaman.