Mohon tunggu...
Andy saliwu
Andy saliwu Mohon Tunggu... Penulis - Pelajar

Orang biasa yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Karena Sejarah dan Abai Pemerintah Buteng, Kita Harus Kuat Hadapi Wabah

21 Mei 2020   18:46 Diperbarui: 6 Februari 2021   00:29 215
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(sbr gambar : tribun bali)

Andai sedari awal pemerintah telah membangun benteng persiapan, diantaranya rumah karantina khusus bagi setiap orang yang hendak masuk ke buteng (bukan setelah suspect positif) besar kemungkinan daerah yang kita cintai ini tidak akan dijebol oleh virus, kalaupun iyah, eskalase angkanya akan stagnan tanpa potensi persebaran, tetapi karena di rumah masing-masing semuanya menjadi multitafsir.

Contoh pengandaiannya seperti ini : suspect memasuki buteng tertanggal 17 april menggunakan KM Nggapulu sesuai keterangan gugus (di luar kapal lain) . Dibulan berikutnya tepat 15 mei suspect dinyatakan positif, antara 17 april dan 15 mei akumulasi harinya berjumlah 28 hari. Dalam masa 28 hari, suspect akan menghabiskan masa karantina selama 14 hari, setelah itu suspect  mempunyai waktu 14 hari untuk berinteraksi dengan siapa saja karena masa karantina yang dianggap telah usai, diwaktu sebelum dan sesudah 14 hari inilah letak potensi penyebaran virus ke orang lain karena tidak ada jaminan kalau suspect tersebut telah sembuh apalagi statusnya adalah OTG.

Analisis lain, sebenarnya pernyataan postif tertanggal 15 mei terhadap penumpang KM Nggapulu itu tidak elok. Selain memberi tahu tentang ketidak seriusan pemerintah dalam melindungi rakyatnya, pernyataan positif itu banyak mengundang tanya, lagi pula rentangnya memang cukup jauh dan sudah melewati masa inkubasi virus, kenapa tidak satu minggu sesudah kedatangan suspect biar yang lain dapat menjaga jarak, kapan sampel rapidnya-nya dikirim, apakah spesimen suspect diambil, lalu kapan spesimen itu diuji, apakah suspect dan publik tidak berhak mengetahui ini, apakah memang tenaga medis kita tidak dipersenjatai dengan baik hingga hasil positif itu harus diketahui selama satu bulan, lalu bagaimana realitas peruntuhan anggaran 11. miyar itu?

"Ah, sudahlah, mending kita nikmati lelucon korban positif yang baru saja lari dari rumah karantina sambil membenarkan ketidak pastian pencegahan"

Di samping itu, untuk kita rakyat biasa, kewarasan harus tetap dirawat, narasi kegagalan sejarah saat menghadapi wabah dapatlah kita gunakan untuk menghadapi semua onak ini, utamanya menyangkut literasi dan solidaritas kemanusian karena ancaman virus bukanlah satu-satunya wabah yang kita hadapi, ketidak seriusan pemerintah juga seolah menjadi malapetaka baru.

Kendati demikian, sikap hati-hati haruslah tetap di kedepankan agar tidak terjebak dalam hegemoni ketidak pastian yang kini terlihat panjang, jika salah langkah, maka bukan tidak mungkin untuk mengulang kegagalan sejarah. Sebaliknya, jika kita berhasil melewati badai yang baru saja merongrong ini dengan baik, seyogyanya kita telah mencipta suatu peradaban unggul di masa mendatang.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun