Suatu ketika muncul jawab menjawab di sebuah group Whatsapp (WA). Awalnya sih biasa-biasa saja. Seorang pekerja membela atasannya. Bawahan bela atasan? Wajar lah tidak penting amat untuk di bahas.
Namun, permasalahan muncul saat keegoannya meninggi. Ya wajar lah, orang kuliah di kampus negeri atau di luar negeri memiliki rasa tinggi hati. Tidak semua sih. Kebanyakan iya.
Terlebih orang tersebut sudah bekerja. Tidak bisa lagi dinasehati. Tapi menasehati paling jago se jagat raya. Saat itu, dengan lugu dia mengatakan :
"Ah kamu baper"
"Itu kan karena kamu engga diajak ngopi"
"Dikit-dikit minta diajak ngopi"
"Datang aja ke ruanganku, berapa gelas kamu mau ngopi, habiskan saja"
Ya Tuhan. Sebegitunya kah dia menilai orang yang tidak memiliki apa-apa. Iya, diriku memang berasal dari keluarga tidak mampu. Rumah pun tiada. Sampai sekarang keluarga ngontrak.
Selain itu, saya memang kuliah di kampung. Tapi apakah orang kampung yang kukiah di kampung tidak memiliki hak untuk bicata? Apakah orang kampung yang menjadi aktifis di kampung tidak memiliki kesempatab untuk belajar di Jakarta?
Sepertinya beberapa orang tidak tahu apa yang dimaksut dengan "ngopi-ngopi".
![adrian](https://assets.kompasiana.com/items/album/2017/11/22/20170901-212604-01-5a15ab4105f1cd5aca7f2462.jpeg?t=o&v=770)