Sepasang lenganmu
sepasang lenganmu yang hangat dan panjang dan jitu memeluk kucing dan kesepian. tetaplah seperti itu. selagi orang-orang memiliki niat baik membangun jembatan menuju sekolah, melubangi tanah menanam bunga purbanegara dengan kuku-kuku tangannya sendiri, memahat patung, dan seseorang yang menulis nama kekasihnya sepanjang garis pantai dengan harapan ombak menghapusnya kembali. perlahan-lahan. seperti cara kerja waktu, membuat yang semakin jauh, yang menjauhkan dekat ke arah lekat dadanya yang paling tepi.
sepasang lenganmu yang handal dan teduh dan menyelamatkan. urusan ini lagi. aku selalu ingin dipeluk kau dalam mimpi. ketakutan absurd dan asing dalam diriku melingkar-lingkar seolah gangsing yang meminta berhenti, tetapi ia terus berputar merotasi dirinya yang berada di dalam pusat diriku yang rapuh dan hambar.Â
sepasang lenganmu. selamatkanlah aku dari waktu yang sia-sia, rahmat yang diingkari para pengeluh, rasa syukur dan pendosa, seolah seberkas cahaya yang memanjat keningku yang ingin kau cium.Â
sepasang lenganmu yang luas dan berpetak-petak penuh kekayaan seperti ladang gandum, bawalah aku ke dalam pelukanmu sebagai petani yang paling tahu cara menggarap satu-satunya kesuburan lahanmu.Â
(2016)
Andi Wi
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H