Fasilitas/sarpras pun telah dikelola secara swadaya. Pengelola HKm Mandiri juga telah memiliki beberapa program yang dananya bersumber dari pendapatan, diantaranya Program Santunan Anak Yatim Piatu, Program Bedah Rumah (Rumah Sehat) sert program Pengaspalan dan pelebaran jalan.

Hal tersebut nantinya akan menimbulkan anggapan bagi masyarakat bahwa perjalanan wisata ke Kalibiru adalah perjalanan wisata yang mahal. Selain itu, sistem pengelolaan ticketing yang cukup mahal pada akhirnya juga akan menurunkan minat masyarakat untuk berwisata ke lokasi tersebut.

Mereka juga paket-paket wisata, untuk disatukan dengan Kalibiru, misalnya dengan Paket Camping Ground dan Susur Sungai Ngrancah -- Sub DAS Seram, bagian dari DAS Serayu Opak Progo. Adopsi pohon juga merupakan paket yang menarik anggota kelompok untuk tidak menebang pohon tetapi justru menjaga pohon dengan menghasilkan dana.
Pengembangan wisata belum tentu berbanding lurus dengan harapan. Kisah sukses pendapatan HKm Kalibiru yang mampu menghasilkan pendapatan kurang lebih Rp 5 milyar pada tahun 2016 sepertinya akan sulit diulangi. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kalibiru terus menurun.Â
Penurunan ini ditengarai sebagai dampak banyaknya objek wisata baru yang bermunculan di Bumi Menoreh. Pada tahun 2017, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kalibiru turun hingga hampir 50% dibanding 2015 dan 2016. Selama ini, Kalibiru masih mengandalkan keindahan pemandangan alam sebagai daya tarik utama bagi wisatawan.

Pada 2015 dan 2016, wisatawan yang datang rata-rata 700 orang pada hari biasa, dan sekitar 2.000 orang wisatawan saat hari libur. Sejak terjadi wabah Corona atau Covid-19 melanda Indonesia Bulan Maret 2020, jumlah kunjungan wisatawan Kalibiru anjlok.Â
Pada libur akhir pekan, kunjungan wisatawan perhari mencapai titik terendah,yaitu tidak lebih dari 40 orang per hari. Kita hanya dapat berharap wabah Covid-19 ini segera hilang, sehingga pariwisata kembali bangkit. Kalibiru, riwayatmu kini....***(ASP, 2020)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI