Mohon tunggu...
Andi Rahmadani
Andi Rahmadani Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Voltaire dan Perkembangan Filsafat Renaisans

4 Desember 2018   03:33 Diperbarui: 4 Desember 2018   03:45 1472
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Semoga kita diberikan berkat dan rahmat yang tiada tara oleh Tuhan YME sehingga kita dapat terus meluaskan ilmu yang kita punya, bukan lagi sekedar menggali ilmu sampai dapat.

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, mari sedikit mengulik kedigdayaan manusia sebagai salah satu makhluk hidup di angkasa raya yang memiliki ketrampilan spesial, yaitu berpikir. Berabad-abad yang lalu, beberapa filsuf Yunani kuno dan beberapa peradaban awal manusia membuat tesis apa yang sebenarnya membedakan manusia dengan hewan, walaupun memiliki rupa fisik yang hampir-hampir sama. 

Aristoteles menganggap bahwa manusia adalah hewan yang berakal. Al-insan hayawan natiq, "manusia adalah binatang yang berpikir", begitu kata ahli mantiq atau logika asal Arab. Dan tentunya masih banyak tesis-tesis mengenai persamaan manusia dengan hewan yang berkembang di kalangan cendekiawan awal peradaban bumi. 

Namun apabila tesis terbit, tentu saja akan timbul antithesis yang berusaha untuk memutarbalikkan teori yang berkembang bahwa sejatinya manusia itu berbeda dengan binatang dalam berbagai hal. Rene Descartes, seorang filsuf kenamaan Perancis pernah membuat teori bahwa, "Apabila aku berpikir(Manusia), berarti aku ada." Konsep berpikir inilah yang menuntun ahli-ahli berpikir rasionalis dalam menentang anggapan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara manusia dengan binatang.

Berbicara mengenai konsep berpikir, tentu saja kita harus dapat memandangnya dari berbagai sudut pandang, salah satunya adalah sudut pandang objektif. Di mana, manusia ditakdirkan untuk berbeda. 

Setiap manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, dan cara berpikir mereka pun tentu saja memiliki perbedaan. Banyak faktor yang mempengaruhi akan hal tersebut. Bisa saja terjadi karena latar belakang pendidikan, latar belakang kebudayaan, atau bahkan latar belakang lingkungan. Semua faktor tersebutlah yang merancang peta pemikiran manusia hingga kini.

Paradigma pemikiran manusia ini terbentuk karena asas model berpikir yang seragam dalam sebuah era pemikiran manusia. Kenapa harus dibedakan dalam segi waktu? Tidak ada jawaban konkret untuk mengatasi pertanyaan destruktif tersebut.

 Namun, menurut saya, pembagian peta pemikiran berdasarkan era lebih dikarenakan setiap era memiliki latar belakang dan perkembangan yang berbeda. Kita tidak bisa membandingkan peta pemikiran filsafat abad 19 yang dikenal lebih kontemplatif, heterogen, dan benar-benar bebas dengan pemikiran filsafat era pra-Rennaisans yang terlalu kaku dan terlalu ditutup-tutupi oleh kekuatan penguasa pada jaman itu.

Salah satu era perkembangan pemikiran manusia yang benar-benar pesat pergerakannya dan mempengaruhi filsafat pada era modern ini adalah filsafat yang berkembang di era Rennaisans di Eropa mulai dari abad ke-12 hingga abad-18 sebelum pecahnya revolusi Industri. 

Filsafat Rennaisans ini berkembang setelah muncul kesadaran bahwa kekuatan pada jaman itu merupakan opresi yang harus ditiadakan karena mengganggu fitrah manusia dalam berpikir. Banyak sekali filsuf era Rennaisans yang bahkan kepopulerannya mengalahkan filsuf yang muncul di era postmodernism. 

Hal ini bisa saja terjadi karena filsafat era Rennaisans merupakan fondasi utama para filsuf yang lahir setelahnya dalam mengkaji teori-teori berpikir mengenai berbagai hal. Salah satunya adala Niccolo Machiavelli, seorang filsuf Italia jaman Rennaisans yang pemikiran radikalnya menjadi patokan beberapa tokoh kenamaan peradaban modern seperti Adolf Hitler dan Napoleon Bonaparte. Atau Hegel yang pemikirannya menjadi patokan dasar beberapa filsuf kenamaan selanjutnya seperti Karl Marx dan Jacques Derrida.

 Selain itu, ada banyak tokoh filsuf Renaisans lain yang berhasil meletakkan fondasi utama dalam berpikir dan menjadi pedoman bagi para pemikir-pemikir selanjutnya. Beberapa diantaranya adalah Montesqiue, Jean Jacques Rouessau, John Locke, Benjamin Franklin, Rene Descartes, dan yang akan dibahas pada pembahasan kali ini adalah Franois-Marie d'Arouet atau yang lebih dikenal dengan nama penanya Voltaire.

Voltaire itu nama pena. Nama yang diberikan bapaknya dalah Francois Marie d'Arouet. Siapa pun panggilannya, yang jelas dia adalah tokoh terkemuka pembaharu Perancis. Ia adalahsSejarawan, sastrawan, rasionalis, politikus, libertarian, dan yang paling utama dia adalah seorang Filosof. 

Voltaire lahir tahun 1694 di Paris. Di masa mudanya, Voltaire belajar di perguruan Jesuit Louis Le Grand di Paris. Selaku remaja di Paris, dia dikenal cerdas, pandai humor tingkat tinggi dan tersembur dari mulutnya kalimat-kalimat satire. 

Padahal, di jaman ancient regime alias pemerintahan lama Perancis yang saat itu masih berbentuk monarki, tingkah laku macam itu bisa mengundang bahaya, dan betul saja! Karena ucapannya yang mengandung politik, dia "diamankan" di penjara Bastille. Hampir setahun penuh dia meringkuk di situ. Tetapi Voltaire tidak sebodoh pemerintah yang menjebloskannya. Dia bukannya bengong seperti orang bego, tetapi disibukannya dirinya dengan menulis sajak-sajak kepahlawanan Henriade yang kemudian dapat penghormatan tertinggi. 

Bahkan, tak lama setelah dirinya menghirup udara bebas, drama Oedipe-nya diprodusir di Paris dan mendapatkan sukses besar. Dalam sisa enam puluh tahun hidupnya, Voltaire betul-betul jadi jagonya kesusasteraan Perancis.

Voltaire pun sangat disanjung oleh kaum borjouis Perancis pada era itu, Voltaire sudah menempatkan dirinya selaku orang yang cerdas dan brilian dalam adu pendapat, bukan saja menurut ukuran jamannya, tetapi mungkin untuk ukuran sepanjang jaman. 

Tetapi, dia kurang supel dan rendah hati yang oleh kalangan aristocrat Perancis dianggap suatu persyaratan yang mesti dipunyai oleh seorang kebanyakan seperti dia. Hal ini menyebabkan pertentangan antara Voltaire dengan kaum aristocrat khususnya Chevalier de Rohan yang dikalahkan oleh kecerdasan Voltaire dalam adu kata. S

elang beberapa lama, ia pun menyewa tukang pukul dan mempermak Voltaire sebelum menjejbloskannya lagi ke dalam penjara Bastille. Voltaire dibebaskan dari situ dengan syarat bahwa ia mesti meninggalkan Perancis. Karena itu dia berkeputusan menyebrang ke Inggris dan tinggal di sana selama dua setengah tahun.

Dari sinilah rupanya merupakan titik balik dalam kehidupan Voltaire. Ia belajar bahasa Inggris untuk selanjutnya mengapresiasi berbagai mahakrya yang dicipatakn oleh cendekiawan Inggris seperti John Locke, Francis Bacon, bahkan William Shakespeare. Voltaire amat terkesan dengan Shakespeare dan ilmu pengetahuan Inggris serta empirisme, percobaan secara praktek dan bukannya berpegang pada teori melulu. Tetapi, dari semuanya itu yang paling mengesankannya adalah sistem politik Inggris. 

Pemikiran demokrasi inilah yang selanjutnya menuntun Voltaire menjadi teretikus negara yang mengantarkannya menjadi faktor penentu terciptanya Revolusi Perancis yang timbul di Bastille tahun 1789. Karyanya Letters on English yang terbit tahun 1734 merupakan tanda sesungguhnya dari era pembaharuan Perancis. Voltaire pun hidup secara semi-nomaden karena menghindari kekuasaan monarki Perancis yang tidak menyukai pemikiran liberal ala Voltaire. Ia pun menetap di suatu perkebunan di Ferney, perbatasan Perancis-Swiss selama sisa hidupnya hingga tahun 1778.

1. Voltaire sangat mencintai dunia kepenulisan, karena memang dengan menulislah membuat pemikiran Voltaire selalu tajam karena terasah tiap hari. Ia tidak memperdulikan dimana ia harus menulis, bahkan saat hidup di pelarian pun ia tetap setia dengan menulis. 

Voltaire betul-betul seorang penulis dengan gaya fantastis, mungkin penulis paling banyak bukunya dalam daftar buku 100 Orang Paling Berpengaruh Sepanjang Massa. Kumpulan tulisannya dipercaya melebihi 30.000 halaman. Semua ini termasuk sajak kepahlawanan, lirik, surat-surat pribadi, pamphlet, novel, cerpen, drama, dan buku-buku serous tentang sejarah dan filsafat.

2. Voltaire senantiasa punya kepercayaan teguh terhadap toleransi beragama. Tatkala usianya menginjak 60-an, terjadi sejumlah peristiwa yang mendirikan bulu roma perihal pengejaran dan pelabrakan terhadap orang-orang protestan di Perancis. 

Terguguh dan marah besar, Voltaire mengabdikan dirinya ke dalam "jihad intelektual" melawan fanatisme agama. Kesemua surat-suratnya senantiasa ditutupnya dengan kalimat "Ecrazes l'Infame" yang maknanya "Ganyang barang sialan itu!" Yang dimaksud Voltaire adalah kejumudan dan fanatisme agama. Voltaire dikenal sebagai Deis, atau orang yang percaya terhadap Tuhan. 

Namun Voltaire menolak agama-agama yang terlalu terpaku dalam dogma-dogma, Voltaire pun merasa bahwa organisasi keagamaan hanyalah omong kosong belaka. Bahkan, karena sifat anti-dogma yang secara langsung menyenggol Gereja, Voltaire semasa meninggalnya dilarang dikubur secara Kristen oleh Gereja saat itu.

3. Buku 100 Orang Paling Berpengaruh Sepanjang Massa adalah salah satu buku dengan penjualan luar biasa yang ditulis oleh seorang jurnalis Amerika Serikat, Michael H. Hart yang terbit dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pada tahun 1982. 

Buku ini memuat urutan seratus orang paling berpengaruh dalam memutar sejarah modern manusia melalui perspektif yang berimbang yang dilakukan oleh Michael Hart. Voltaire pun secara tidak langsung memiliki andil besar dalam penciptaan buku ini karena penulis utama dalam Dasar Pemikirannya mengutip pernyataan Voltaire mengenai Isaac Newton lah yang merupakan manusia paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Selain itu, Voltaire juga masuk dalam daftar keseratus tokoh di dalam buku di urutan ke-79.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun