[caption caption="Sumber : Amr. Olasha"][/caption]Penelantaran pasien banyak dilakukan rumah sakit diberbagai daerah di Indonesia. Penelantaran pasien tidak saja dilakukan oleh Rumah Sakit Swasta namun di beberapa daerah justru yang penelantarkan pasien datangnya dari rumah sakit milik pemerintah daerah.
Belum lama ini, kembali terjadi penelantaran Pasien BPJS oleh Rumah Sakit Bumi Waras (RSBW) salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandarlampung. Seorang pasien peserta BPJS kesehatan diduga mendapatkan perlakuan diskriminasi oleh pihak RSBW.
Sebut saja namanya Maida (56) penderita darah tinggi masuk RSBW pada hari selasa (9/2) sekitar pukul 20.00 Wib, karena tensinya darah naik secara mendadak. Baru dirawat selama tiga hari , pada hari sabtu (13/2) malam seorang perawat jaga mengabarkan bahwa Maidah mesti dirujuk kerumah sakit tipe B.
“Malam itu saya didatangi dokter dan perawat , mereka meminta ibu saya pindah kerumah sakit tipe B“ ujar Rahadyanjati, anak Maidah.
Masih menurut Rahadyanjati perawat RSBW minta , malam itu juga pasien harus segera dipindahkan, karena limit pembayaran sudah Rp. 3 Juta dan sudah dirawat selama 3 hari.
“Malam ini juga harus pindah “ ujar Rahadyanjati menirukan pesan sang perawat.
“kalau sampai besok maka biaya perawatan ibunya akan melebihi limit “ Tambah Rahadyanjati dengan mata berlinang.
Rahadyanjati menuturkan menurut para perawat yang jaga malam , aturan itu memang datangnya dari BPJS dan dan Manjemen Rumah Saki RSBW.
Sebelumnya Penelantaran Pasien seperti RSBW Bandarlampung, itu terjadi pula di Rumah Sakit Moehammad Hoesin (RSMH) Palembang. RSMH satu satunya rumah sakit milik Pemerintah Propinisi Sumatera Selatan dan menjadi tujuan rujukan dari seluruh rumah sakit kabupaten kota di Sumatera Selatan
Kisah miris ini diceritakan oleh salah seorang keluarga paien yang merasa kesal atas perlakuan RSHM yang dianggapnya sewenanhg wenang.
Sebut saja namanya Masita dewi (59) , peserta BPJS dipaksa Rumah Sakit RSMH Palembang pulang padahal kondisi Masita dewi masih dalam keadaan kritis.