Mohon tunggu...
Anang Syaifulloh
Anang Syaifulloh Mohon Tunggu... Freelancer - Akun Pribadi

Pengagum Bapak Soekarno, namun untuk masalah wanita belum seahli beliau

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Gagal Masuk PTN? Jangan Paksakan Pilihanmu Masih Ada Tahun Berikutnya

16 Juli 2017   16:32 Diperbarui: 20 Juli 2017   14:34 958
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gaya Hidup. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Menjelang usia 20 an menjadi masa yang krusial bagi hidup manusia. Peralihan dari masa remaja ke dewasa menjadi tantangan sendiri. Setiap langkah yang dipilih akan berpengaruh di masa yang akan datang. Pada fase ini akan dihadapkan antara terus melanjutkan ke jenjang Pendidikan formal yang lebih tinggi, langsung bekerja, ataupun masuk ke pesantren.

Empat tahun yang lalu saya juga mengalaminya. Langsung bekerja tidak menjadi prioritas. Selepas SMA ada dua pilihan yang membingungkan. Masuk ke Universitas dengan jurusan yang saya kehendaki atau masuk pesantren. SD sampai SMA saya habiskan di sekolah negeri dan pada sore harinya mengaji diniyah di pondok pesantren dekat rumah. Alhamdulillah mengerti sedikit tentang ilmu agama. Sejak kecil saya menyukai sains terutama matematika dan fisika dan bercita-cita menjadi seorang guru. Entah mengapa cita-cita ini berubah ketika akhir masa SMA. Saya beralih ke teknik, dari teori lari ke praktik.

Setelah lulus SMA sama seperti anak SMA yang lain,  saya disibukkan dengan berbagai tes masuk Perguruan Tinggi. Mulai jalur SNMPTN, SBMPTN, Jalur Mandiri, dll. Saya mengutarakan keinginan untuk masuk ke Perguruan Tinggi kepada orang tua dan Kyai Pesantren. Orangtua menyerahkan pilihan kepada saya asal masih bisa membiayai. Kyai menganjurkan mondok saja, tetapi juga memberi saran apabila memilih kuliah harus sambil ngaji. Tes yang telah dijalani sampai pada pengumuman. Sejak SD sampai SMA saya diberi kemudahan untuk masuk ke sekolah yang saya inginkan. Kali ini Perguruan Tinggi menjadi hal pembeda. Masuk Perguruan Tinggi menjadi hal tersulit. Semua tes masuk gagal kecuali satu kesempatan yaitu STAN. Saya lolos tes pertama dan tinggal selangkah lagi lolos.

Harapan tinggi memasuki hati saya. Bayangan bekerja dalam lingkup Dirjen Pajak sering kali tergambar. Orangtua juga berharap akhir yang bagus dalam rangkaian tes ini. Tapi keinginan tidak sesuai harapan. Saya kembali gagal. Semua tes masuk PTN telah tutup tapi tidak untuk PTS. Saya melihat ada raut kesedihan pada wajah ibu ketika mendengar kabar ini. Saya merenung kenapa kegagalan menyelimuti? Padahal doa telah banyak disampaikan oleh orang-orang di sekitar. Apakah saya tidak diridhoi untuk kuliah dan mondok saja?

Malam harinya, saya mendapat jawaban atas pertanyaan di atas. Sewaktu mengikuti Diniyah di Pondok Pesantren, guru saya menjelaskan hal yang sangat berhubungan dengan masalah ini dan diwaktu yang sangat tepat. Saya lupa nama kitab dan kalimat yang dibaca waktu itu. Intinya Imam Ghozali mengatakan "walau seluruh makhluk bumi termasuk orangtua mendoakan agar kita mendapat yang diinginkan tetapi dilain sisi Allah tidak menghendaki maka tidak akan terjadi, sebaliknya walau seluruh makhluk bumi termasuk orangtua mendoakan agar kita terhindar dari yg tidak diinginkan tetapi dilain sisi Allah menghendaki maka terjadilah".

Saya langsung tersadar. Air mata tidak terasa merembes. Langsung saya usap, tentunya saya tidak mau ditanya oleh teman ataupun malah diketakan. Saya berkonsultasi lagi dengan orangtua dan kyai. Orang tua menyarankan untuk kuliah non-teknik saja di dekat rumah, sedangkan kyai menanggapi dengan santai 'ngaji saja dulu disini'. Saya tidak minat untuk kuliah non-teknik di PTS terdekat dan memutuskan untuk mencoba tes masuk tahun depan.

Setahun selanjutnya saya isi dengan tetap mengaji di pondok pesantren pada malam hari, sedangkan siang harinya saya isi dengan mencoba berjualan online. 3 bulan saya mencoba berjualan. Hasilnya kurang memuaskan. Saya putuskan untuk berhenti dulu dan mencoba mencari ilmu berjualan dulu.

Musim tes masuk Perguruan Tinggi tiba, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri lewat dua jalur. Kyai saya memberi wejangan dan doa, semoga saya berhasil kali ini dan apabila gagal lagi disuruh mondok. Beliau juga menyuruh apabila berhasil lolos agar tetap mengaji disana. Saya mengiyakan. Sebuah motivasi yang besar. Menurut saya dua tes ini memiliki perbedaan kesulitan yang mencolok. Saya gagal lolos di tes yang menurut saya mudah. Bagaimana untuk lolos tes apabila di tes yang mudah saja gagal? Saya berusaha tenang. Pengumuman tes yang kedua akhirnya diumumkan. Saya masih ingat yaitu ketika bulan Ramadhan. Saya tidak melihat pengumuman langsung, teman seperjuangan saya mengirim sms dan dibuka oleh bapak. Jadi ketika pulang mengaji, bapak dan ibu dengan suka cita langsung memberi tahu hasil pengumuman

Alhamdulillah kali ini saya berhasil lolos di salah satu PTN Malang. Saya belajar banyak hal. Mulai kegagalan di tahun pertama dan kesabaran untuk terus belajar. Saya terlalu ambisius untuk masuk ke PTN dan menghiraukan yang lain. Tahun kedua saya belajar ikhlas dan tawakal dan alhamdulillah berhasil.

Sekarang kuliah saya sudah memasuki tahun keempat. Bapak memberi wejangan agar berhemat selama mencari ilmu di Malang. Jangan ikuti teman-teman yang boros dan cari teman yang sederhana. Sebernarnya malu tiap bulan masih mengandalkan kiriman dari orangtua. Alhamdulillah bapak masih mengirim uang tiap bulan dengan banting tulang di kampung. Tahun pertama bapak memberi kuasa untuk mengatur keuangan. Bapak memberi kartu ATM dengan sejumlah uang yang lumayan besar, cukup untuk membiayai selama empat semester. Saya diberi kepercayaan penuh. Saya mengira sanggup menjalankannya, tetapi godaan sebagai mahasiswa baru sangat besar. Pengeluaran saya membengkak. Bapak tidak marah. Akhirnya bapak memutuskan untuk mengirim uang perbulan mulai semester empat. Lebih baik sistem perbulan, lebih terkontrol. Saya juga merasakan dampaknya. Hidup prihatin juga tidak apa-apa, hitung-hitung tirakat selama masa kuliah ini.

Semoga saya bisa mewujudkan cita-cita dan semoga dapat berkesempatan mengaji lagi sambil kuliah yang belum saya laksanakan sesuai saran dari Kyai

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun