Lihat ke Halaman Asli

Aku dan Saat Ini

Diperbarui: 29 Januari 2023   21:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dok pribadi

Aku memiringkan kembali tubuhku ke berbagai sisi untuk yang ke sekian kalinya. Tak terhitung lagi berapa kali aku melakukannya sejak tadi aku memutuskan untuk tidur. Namun tetap saja mataku tak bisa terlelap. Hatiku gelisah. Pikiranku liar.

Kunyalakan kembali lampu kamarku. Lalu aku duduk di atas tempat tidurku sambil merangkul kedua kakiku yang kutekuk. Aku kembali menangis sambil menenggelamkan wajahku di atas dengkul yang sudah berada dalam pelukanku. Rasanya belum puas aku menangisi cerita yang kudengar hari ini.

Tadi sore sekitar pukul lima, aku bertemu dengan Andre, lelaki yang telah berhasil meluluhkan hatiku sejak lama. Kami berjumpa dan saling mengenal sekitar tiga tahun yang lalu di sebuah komunitas yang kami ikuti. Kedekatan kami berawal dari sebuah cerita. Ya, aku suka bercerita dan dia suka mendengarkan. Dan bercerita seperti menjadi kewajiban bagi kami seusai melakukan kegiatan dari komunitas tempat kami bertemu. Hingga waktu dua jam pun tak pernah cukup untuk kami bercerita. Dan hari ini pun kami bertemu untuk bercerita.

Saat ini kami bukan lagi mahasiswa seperti dulu. Namun hubungan kami masih tetap sama, teman bercerita. Tetapi, lama-kelamaan aku tak suka. Aku tak suka hanya menjadikannya teman bercerita saja. Aku ingin dia menjadi temanku bercerita seumur hidup. Ya, benar. Pendamping hidup.

Setelah menemukan posisi duduk yang nyaman, aku meraih tas sandang yang ia bawa, “aku pinjam bentar, ya.”

“Buat apa?”

“Lihat aja nanti.” Aku terus memegang tasnya sambil menatapnya dengan ekspresi wajah memohon. Ia pun mengalah lalu mengeluarkna tali tas yang melingkar di tubuhnya lalu menyerahkan padauk sambil tersenyum.

Aku mengeluarkan gantungan kunci dari tas sandang kecilku. Gantungannya berhiaskan boneka beruang jantan yang sedang memeluk boneka beruang betina dari belakang, dan beruang mereka memeluk benda berbentuk hati berwarna merah bertuliskan “LOVE”.

Sambil memperhatikanku mengaitkan gantungan kunci tersebut ke pengait ritsleting tasnya, ia bertanya padaku, “apa itu?”

Aku hanya menatapnya sambil menunjukkan gantungan kunci itu. Tetapi dia hanya meresponku dengan ekspresi datar. Aku pun bingung melihat ekspresinya, “kenapa? Kamu nggak suka, ya?” dengan perasan sedikit bersalah. Aku menjadi takut terlihat terlalu lancang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline