Lihat ke Halaman Asli

Yayi Solihah (Zatil Mutie)

Penulis Seorang guru dari SMK N 1 Agrabinta Cianjur

Liliuran: Kearifan Lokal Sunda yang Makin Tergerus Zaman

Diperbarui: 20 Februari 2021   09:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://akcdn.detik.net.id/

Negara Indonesia memiliki begitu banyak kearifan lokal yang telah turun temurun dilakukan. Baik yang berupa seni, budaya, ataupun kebiasaan baik dalam masyarakat pada umumnya.

Seperti pada kebiasaan yang sudah menjadi adat istiadat di daerah Sunda yang meliputi tatar parahiangan hingga Banten. Keseharian masyarakat setiap kampung yang memiliki kesatuan budaya selalu memiliki ciri khas berupa kearifan lokal yang mengakar.

Salah satu kebiasaan baik itu adalah istilah Liliuran. Kata dasar liur artinya membantu tanpa pamrih Sedangkan liliuran artinya saling membantu pekerjaan seseorang dengan dilakukan oleh sekelompok orang atau sekelompok warga tanpa upah.

Jadi, ketika ada suatu pekerjaan yang memerlukan tenaga banyak orang. Liliuran akan dilakukan untuk saling meringankan beban. Dalam hal ini istilah liliuran sudah kita kenal sebagai istilah gotong royong yang menjadi ciri khas warga Indonesia sejak zaman dahulu kala.

Selamat datang di artikel terbaru saya, Kompasianer. Kali ini kita akan mengulas tentang kebiasaan gotong royong dalam masyarakat Sunda yang dikenal sebagai Liliuran.

Apa saja jenis pekerjaan yang dikerjakan dalam liliuran?

1. Liliuran persiapan lahan untuk bercocok tanam

Dalam kebiasaan bermasyarakat para petani, ketika musim penghujan tiba. Setiap warga akan sibuk menyiapkan lahan untuk ditanami. Baik ladang atau sawah yang dipenuhi rumput atau membuka lahan baru, mereka akan mengadakan gotong royong sehingga pekerjaan setiap warga bisa terselesaikan. Pihak pemilik ladang atau sawah hanya perlu menyediakan makanan saja.

2. Liliuran tandur

Bagi yang memiliki sawah. Pekerjaan tandur alias menanam bibit padi di sawah ini memang membutuhkan banyak pekerja. Jika tidak punya modal besar untuk memberi upah tentunya tandur sangat lah berat. Namun, pada masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat sunda. Mereka akan mengerjakan tandur ini dengan sistem liliuran. Selain indahnya kebersamaan, rasa saling menghargai bisa lebih dirasakan.

3. Liliuran ngaseuk

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline