"Akhirnya, Pangeran Patih menikah dengan Putri Ara yang cantik jelita. Mereka pun hidup bahagia di istana."
"Apel busuk itu, Putri Ara, Yah?"
"Iya, Nak!"
Mata bening itu menatapku. Dua garis bibir nan mungil, mengatup kaku. Kemudian membisu.
Tak seperti malam kemarin.
***
Malam kemarin. Sejak awal aku berkisah, wajah tulus itu tampak bercahaya.
"Setelah semua buaya berbaris di permukaan sungai. Kancil melompat ke tubuh buaya, sambil menghitung dengan suara yang keras. Satu, dua, tiga..."
"Akhirnya, Kancil sampai ke seberang, Yah?"
Kuanggukkan kepala. Tak sempat menutup cerita. Sesaat dahinya berkerut, kemudian tertawa seraya bertepuk tangan.
"Kancil yang pintar, Yah!"
"Anak Ayah juga, kan?"
Kedua mata itu berkedip bahagia. Menggulung lengannya di leherku. Dan, kembali berbaring di atas ranjang sambil memeluk bantal guling. Tanpa suara, kedua mata itu terpejam. Seulas senyuman tertinggal di bibir mungil itu.
Kutarik selimut, agar menutupi seluruh tubuh kecil itu. Sekilas, jemari tangan kananku mengusap helai rambut yang menutupi matanya.