Bulan Puasa Di Rumah Nenek
Kalau lihat kalimat di atas, sepertinya mirip dengan judul puasa tugas mengarang ya? Namun dalam kondisi sesungguhnya saat masih kecil dahulu bahkan hingga sampai saya lulus Sekolah Menengah Atas bulan puasa dihabiskan di rumah nenek. Ya Nenek dari Ayah ini tinggal di Tasik Malaya, Jawa Barat. Kami keluarga besar dari suku sunda yang mengungsi kisaran Tahun 1982 saat musibah alam meletusnya Gunung Galunggung.
Musibah itu mengakibatkan orang tua saya , adik yang masih bayi dan keluarga lainnya mengungsi ke Tangerang . Pada saat itu Tangerang masih bagian wilayah Administrasi dari Provinsi Jawa Barat dengan ibu kotanya Bandung.
Karena kehidupan dalam suasana duka di tempat pengungsian kami tinggal di sebuah kontrakan yang berdinding anyaman bambu dan masih beralaskan tanah yang belum dipelur semen (tembok). Kami tinggal dengan kondisi amat sederhana di sebuah kampung bernama Kampung Kandang Kambing. Ya, kini kampung itu masih ada dan berada di wilayah Kota Tangerang Provinsi Banten.
Beruntungnya ( kena musibah kok beruntung ya? ) sebelum musibah terjadi ayah saya memiliki usaha di daerah Tangerang tepatnya di Lio Baru Pintu Aer. Usahanya berupa pabrik roti dan usaha tempat es krim (dikenal dengan sempe) dan sejenisnya namun saat itu baru merintis dan banyak menghabiskan biaya untuk membuat pabrik tersebut.
Alhasil keluarga kami kekurangan bahkan hingga Ramadan tiba. Akhirnya aku diekspor atau dikirim kembali ke Tasikmalaya untuk berpuasa di rumah nenek dan menjelang lebaran bapak dan ibuku akan menyusul.
Saya lupa menginformasikan, meski saya memiliki nenek kandung dari bapak, ternyata saya dikirim ke nenek yang bukan nenek kandung. Kebetulan ibu kandung saya sudah yatim piatu , nah dia diangkat dan diasuh oleh adik dari ibunya namanya Nini Emes , Beliau mantan pendekar yang terkenal di sana namun sudah hijrah dan lebih memilih jalan islami.
Kenapa tidak di rumah nenek kandung yang rumahnya super lega dan panjang seperti kereta? Rupanya ada banyak hal yang memang dipikirkan oleh bapak agar saya bisa betah di sana.
"Kalau di Mak Aoh (nenek) kalian akan merasa tidak nyaman, selain tegas akan aturan semisal harus tidur cepat, magrib harus di rumah, mengaji , tidak menyalakan televisi, radio , sholat isya lalu pergi tidur dan esoknya bangun pagi hari. Bapak saya keras orangnya namun di sisi lain lembut kepada saya sebagai anaknya. Karena didikan keras dari orang tuanyalah bapak saya menginkan anaknya menjalani puasa Ramadan bukan di rumah ibunya. Sedih gak sih?
Tapi ternyata memang kondisinya demikian. Saya lebih bahagia tinggal di rumah Nini Emes karena banyak faktor.
- Tradisi berkumpulnya yang tak pernah sepi ;
- Nenek Saya memelihara 4 ekor anjing penjaga . Meski Nini Emes memiliki 4 anjing yang super gede, hampir tidak pernah ada suara anjing menggonggong yang terdengar. Saya sangat menyukai ketika disuruh berpose atau bergaya bersama "Ribut" salah satu anjing piaraan nenek. Oh iya, lima langkah dari pintu rumah nenek saya ini adalah Masjid milik keluarga yang juga dipakai untuk Sholat Jumatan. Aki Momo (kakek) salah satu Ketua DKM nya.
- Karena keluarga besar dari ibu ini berlatar gabungan Persis dan Nahdatul Ulama, memudahkan kami merasakan proses mengaji , berpuasa yang egaliter. Suara adzan, tadarusan, membangunkan sahur persis seperti kondisi saat ini. Ramai dan seru, yang tidak ada adalah suara petasan karena terlarang dibunyikan. Kalau mau maen petasan harus ke lapangan jauh dari masjid.
- Hari -- hari selama puasa di kampung orang tua benar benar bahagia berbeda dengan kondisi prihatin orang tua akibat bencana (karena saya masih kecil , tidak mengerti apa - apa ) yang saya ingat adalah pernah makan nasi dengan lauk garam saja tanpa yang lain. Kondisi itu ketika kami baru beberapa hari mengungsi. Puasa di Bulan Ramadan sangat menyenangkan dan itulah pesan dari Bapak kepada nenek ketika mereka menitipkan kami.
Itulah kisah Ramadanku yang mungkin berbeda dengan anak -- anak kebanyakan. Di saat yang lain berpuasa dan berbuka dengan orang tua, saya justru berpisah dengan orang tua saya dalam merayakan puasa selama satu bulan .