Sejak kecil, kami telah mengenal tradisi Fole Mako sebagai kesempatan untuk makan banyak nasi dan daging. Praktek ini sudah ada di daerah kami mungkin sejak sebelum kami lahir . Kami sendiri tidak tahu kapan tradisi ini dimulai dan oleh siapa? Yang kami tahu tentang Fole Mako adalah acara makan minum bersama secara adat.
Untuk mengetahui sedikit lebih detail tentang tradisi Fole Mako, alangkah baiknya kalau kita telusuri arti kedua kata ini.
Arti Kata
Fole Mako terdiri dari dua kata Bahasa Dawan (Uab Meto), yaitu kata 'Fole' dan 'Mako'. Kata 'Fole' artinya memutar dengan menggunakan tangan; dan 'Mako' artinya mangkuk atau piring besar. Kata Fole Mako' berarti mengisi makanan ke dalam piring dengan menggunakan ukuran sebuah mangkok besar dengan cara menekan dan memutarnya sedikit sehingga memadat (Sa'u: 2020, 192).
'Fole mako' sebagai sebuah tradisi yang berhubungan dengan pesta orang mati atau kenduri di Kefetoran Noemuti dalam bentuk sajian makanan yang ukuran hidangannya menggunakan sebuah mangkok besar (mako) dengan cara memutar atau menekan (fole).
Dikatakan sebagai sebuah tradisi unik, karena praktek tradisi yang berhubungan dengan pesta orang mati atau kenduri dengan makan adat ini hanya terdapat di wilayah Kefetoran Noemuti. Praktek ini tidak bisa ditemui di tempat lain di Pulau Timor.
Apa yang dilakukan pada pesta orang mati?
Perlu diketahui bahwa praktek 'fole mako' ini juga tidak biasa dilakukan oleh semua suku di Noemuti. Ada suku-suku tertentu di Noemuti (Timor Barat) seperti Ninu, Metkono, Tnone, Bani dan Laot yang apabila mereka membuat hajatan/pesta entah sukacita seperti pesta perkawinan atau dukacita seperti kematian, tidak boleh membunyikan musik dan membunuh binatang yang berdarah. Apabila mereka melanggar (tan hai' na'), mereka akan mendapatkan kutukan ('takaf).
Kalau salah seorang anggota suku: Ninu, Metkono, Tnone dan Laot, yang laki-laki menikah, mereka tidak ada musik dan tidak membunuh binatang yang berdarah (sapi, babi, ayam). Demikian pun kalau ada kematian anak laki-laki, selama jenazah masih disemayamkan di tengah keluarga, tidak boleh ada acara makan/minum dengan daging. Oleh anggota suku, hal ini dilarang atau disebut pemali.
Ada apa dengan keempat suku ini?