Lihat ke Halaman Asli

Putra NoviantoGadi

Mahasiswa FISIP Universitas Atma Jaya

"Bibit-Bebet-Bobot": Filosofi Jawa dalam Mencari Jodoh

Diperbarui: 2 Juni 2021   08:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Filosofi Jawa dalam Mencari Jodoh. | pngimage.com

Filosofi bibit-bebet-bobot ini tentu tidak asing bagi kita. Bibit-bebet-bobot merupakan filosofi Jawa yang berkaitan dengan kriteria mencari jodoh ataupun pasangan hidup. 

Filosofi ini dipakai untuk memperoleh gambaran tentang kriteria jodoh versi Jawa , atau setidaknya menjadi alat kalibrasi atas kriteria pasangan yang sudah dikantongi.

Berkaitan dengan pemilihan jodoh, orang Jawa sangat berhati-hati. Kebanyakan orang Jawa masih mempercayai pepatah yang berbunyi "Malapetaka besar yang dialami oleh seseorang adalah ketika ia salah memilih siapa yang menjadi pasangan hidupnya." 

Baca juga: Dilema antara Cari Jodoh Sendiri atau Dijodohkan

Karenanya falsafah jawa bibit, bebet, bobot tersebut masih sering digunakan ileh orang Jawa dalam mencari pasangan hidup, yang nantinya akan menjadi garwo (sigare nyowo) dalam bahasa Indonesia berarti "belahan hati".

Disini saya akan mencoba melihat salah satu filosofi budaya Jawa ini dalam 2 sudut pandang teori yang tentunya saling berkaitan. Pertama adalah teori dari  Kluckhohn dan Strodtbeck's - Future Orientation. Kemudian yang kedua adalah Individualisme, teori dari Hofstede.

Sebelum  lebih lanjut membahas mengenai filosofi Jawa berdasar 2 teori diatas, saya akan sedikit menjelaskan mengenai 3 hal yang ada di filosofi tersebut. Bibit, bebet, bobot yang menjadi kriteria orang Jawa dalam mencari pasangan hidup tentunya memiliki artinya masing-masing. 

Bibit adalah asal/usul keturunan. Disini kita diajarkan untuk mencari tahu mengenai latar belakang dari pasangan tersebut. Seperti, apakah keluarga dari calon pasangan kita memiliki latar belakang yang baik atau malahan buruk. 

Baca juga: Tak Hanya Cari Jodoh, Persiapan Itu Penting

Bebet merupakan status sosial (harkat, martabat, prestige). Beberapa orang jawa juga mempertimbangkan status sosial mereka dalam mencari pasangan hidup.

Kemudian yang terakhir ada Bobot. Bobot merupakan kualitas diri baik lahir maupun batin. Meliputi keimanan (kepahaman agamanya), pendidikan, pekerjaan, kecakapan, dan perilaku. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline