Lihat ke Halaman Asli

Tamparan Keras bagi Peradaban Bangsa Beragama

Diperbarui: 25 Juni 2015   05:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Agama adalah sahabat tertua dari manusia, jika kesamawian tiga agama besar dunia menjadi tolak ukurnya. Oleh karena usianya yang sama dengan peradaban manusia itu sendiri, agama kerap menjadi kambing hitam (jika tidak sebagai topeng legitimasi) akan buramnya sejarah umat manusia yang menandai setiap zaman: kekerasan, darah, penjajahan, dan tak jarang juga menjadi pangkal pembodohan -- lokal maupun global.

Gambaran buram-temaram ini menjadi sebuah implikasi konkrit dari peletakan agama itu sendiri sebagai dasar setiap tindakan otoriter, alih-alih meletakkannya sebagai sebuah kebenaran devosional yang sangat intim, pribadi lepas pribadi, yang oleh Ali Maschan Moesa (Guru Besar Sosiologi IAIN SA) disebut sebagai The Non-Negotiable Area. Ini tentu telah terpikirkan oleh Para Pendiri Bangsa Indonesia yang dengan arif dan santun -- di tengah-tengah keberagaman suku bangsa, bahasa, dan agama itu sendiri -- meletakkan dasar negara ini dalam sebuah kata: Pancasila, sebagai ideologi bangsa. Hal ini tentu menjadi tamparan keras kepada dunia internasional kala itu, yang dengan skeptis mengatakan usia Indonesia tidak akan lama, oleh karena merangkul semua agama dan keberagamannya sebagai sebuah bangsa muda.

Di tengah keraguan dan pesimisme anak-anak bangsa akan ke-Indonesia-an yang terilhami nilai-nilai luhur-visioner para Founding Father, dan semua pertanyaan akan kemampuannya dalam melindungi semua simbol-simbol kekayaan kebhinnekaan kehidupan kita, Pancasila sekali lagi menjadi oasis yang menyegarkan sekaligus memberikan pengharapan dan kekuatan baru dalam menjalani kehidupan bernegara yang gersang di bumi pertiwi.

Berkaca pada kekayaan di atas, tentu menjadi sangat memilukan ketika memulai pembicaraan baru tentang apa yang terjadi belakangan ini -- dalam koridor perkawinan umat beragama dengan warga negara Indonesia. Begitu banyak tokoh agama arogan nan radikal yang dengan segenap kedangkalan wawasan beragama yang diamini oleh massa yang berjumlah besar, dengan tidak tahu malu menyuarakan "mimpi besar" akan berubahnya bentuk dan dasar negara ini oleh ideologi komunalnya.

Hasilnya sangat faktual, pembantaian massal-berdarah, pengrusakan tempat ibadah, pelarangan melaksanakan ibadah secara aman dan nyaman, ibarat sejumput bawang goreng gurih yang ditaburkan pada mie instan goreng permasalahan betapa intolerannya kaum mayoritas terhadap saudara-saudaranya yang minoritas di tanah tumpah darah ini, sempurna!

Giliran bangsa inilah yang ditampar oleh pandangan skeptis dunia yang dahulu memprediksi tidak adanya harapan bagi peradaban Indonesia. Bukan, ini bukan sindrom paranoid. Hanya sebuah pandangan logis, tidak perlu berfantasi untuk melihat bagaimana nasib keberagaman bangsa ini beberapa tahun mendatang jika gejolak peradaban primitif terus dipertahankan.

Ini tentu menjadi tanggapan konkrit atas apa yang disampaikan oleh Irshad Manji dengan gagasannya dalam diskusi "Mendamaikan Iman dengan Kebebasan", Jumat kemarin di Jakarta. Masihkah kita menaruh rasa percaya atas saudara-saudara yang mengaku beragama namun memperkosa dengan sadis harkat dan esensi kemanusiaan sesamanya oleh karena memilih untuk meyakini jalan/cara/teologi yang berbeda dengan apa yang dipilih oleh mereka? Masih adakah harapan akan kebinnekaan Indonesia jika punggawa utamanya (umat beragama) malah memilih berganti sisi menjadi pengkianat cita-cita bersama yang dirumuskan oleh Para Pendiri Bangsa?

Mari sejenak melupakan pemerintah, bukan, bukan untuk mengamini istilah "negeri autopilot " yang disematkan oleh tokoh-tokoh umat beragama tanah air. Namun paradigma kitalah yang perlu ditransformasi, ada yang salah dengan hidup beragama kita ketika sudah tidak lagi menganggap penting untuk menghargai hidup sesama dan terobsesi untuk memperkosa hak-hak azasinya dalam hidup sebagai manusia seutuhnya: merdeka, merdeka dari ketakutan, merdeka dari segala teror dan tuntutan persamaan -- yang tidak jauh dari ego dan kehendak liar dan terilhami pengenalan sempit akan Penciptanya.

Umat beragama, jadilah seperti Penciptamu, penuh kasih mesra, pengampunan, dan tentu saja, "mengizinkan" adanya perbedaan di dunia, yang kehendak-Nya selalu terjadi dan tak pernah terbantahkan!




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline