Lihat ke Halaman Asli

H.Sabir

Lakum Dinukum Waliyadin

Ratusan Anjing Dibunuh dengan Keji di Daerah Ini! Kok Gak Viral?

Diperbarui: 28 Oktober 2021   19:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pemotongan Hewan di salah satu pasar tradisional/Foto: merahputih

Sudah satu minggu ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan berita kematian seekor Anjing yang bernama Canon saat penertiban wisata halal di Aceh.

Kegaduhan berita yang menghiasi layar kaca dan berita-berita mainstream saat ini sedang ramai-ramai mengulas dan mengangkat isu seputar kematian Canon, bak berita penghitungan suara pada Piplres yang diulang-ulang dan di gali dari berbagai sisi pemberitaan dan fakta yang ditemukan.

Seberapa pentingkah kematian seekor hewan yang notabene adalah sesuatu yang tidak terlalu di sukai oleh sebagian masyarakat Indonesia? lebih khususnya di wilayah syariat Aceh sehingga beritanya terus di bollow up pada akhirnya sayapun geregetan.

Seharusnya kita semua memahami bahwa Aceh adalah sebuah daerah istimewa karena syariat agama yang diberlakukan disana. keutuhan toleransi bahkan kepada hewan sekalipun harus kita letakkan pada porsi yang wajar dan tidak selalu menggunakan kacamata yang sama.

Coba anda ke Sulawesi Utara tepatnya di daerah Minahasa, Sangihe dan wilayah-wilayah lain yang masyarakatnya gemar sekali mengkonsumsi daging Anjing peliharaan. 

Di sana untuk menyembelihnya pun dilakukan dengan sangat sadis, pertama-tama anjing yang malang itu di ikat lehernya dengan menggunakan tali yang diberi jarak dengan bambu agar tidak bisa menjangkau penjeratnya, kemudian dimasukan ke dalam karung lalu dikepruk berkali-kali kepalanya menggunakan besi atau balok.

Tapi itu belum seberapa bahkan pada beberapa kasus, si Anjing langsung dibakar hidup-hidup menggunakan semprotan api yang bersuhu tinggi. Tetapi kita tidak pernah meributkan hal itu, bahkan para aktifis-aktifis hewan tidak segetol pada kasus di Aceh dalam menyikapi kejadian tersebut.

Bukan tidak mungkin dengan adanya pemberitaan terus-menerus semacam ini akan menimbulkan dikotomi dalam masyarakat pada cara pandang terhadap saudara kita di Aceh, seharusnya kita harus lebih memahami bahwa tidak semua soalan kita letakkan pada kacamata kuda.

Negara kita adalah Bhineka Tunggal Ika, didalamnya terdapat berbagai kebudayaan, cara pandang dan pedoman hidup beragama yang beraneka ragam. tinggal bagaimana kita menyikapi dan menjalaninya. bukankah pepatah melayu telah mengajarkan kita tentang dimana bumi di pijak disitu langit dijunjung.

Penertiban Anjing-Anjing liar di wilayah Aceh terlebih khusus dengan program wisata halalnya harus kita pahami sebagai sebuah hal yang sepatutnya biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan apa terlebih oleh media-media besar. Ini terjadi di Aceh lain halnya jika penertiban semacam itu kita paksakan di daerah Bali atau Manado, lain cerita mayoritas penduduk disana punya anjing peliharaan yang bahkan dikomsumsi secara brutal.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline