Lihat ke Halaman Asli

Gilang Parahita

Hai! Saya menulis di sini sebagai hobi. Cek karya-karya saya!

Hari Gene... Pengen Punya Anak Empat...?

Diperbarui: 23 Juni 2015   23:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

RASA tertarik saya pada seseorang langsung jatuh ketika ia berkata kelak ingin punya empat anak. Alasannya sederhana: anak akan keluar rumah satu per satu sehingga orang tua tidak akan kesepian.

Loh, emang siapa yang akan merawat empat anak itu? Katanya anak yang pertama bisa membantu mengasuh adik-adiknya.

Emangnya punya duit? Dengan percaya diri ia berkata bahwa setiap anak ada rejekinya dan lagipula selama orang tua mau bekerja, anak-anak bisa makan.

Lantas, kapan dong orangtua pacaran kalau setiap saat mengurus anak? Katanya, pacarannya orangtua bisa dilakukan bersama anak-anak. Aduh. Mulut bawahku jatuh ke lantai.

Pada zaman modern yang mengejar efisiensi dan efektivitas, jumlah penduduk yang tinggi, produksi pangan yang menurun, kualitas lingkungan terdegradasi, dan biaya hidup mahal, masih ada ternyata orang-orang yang berpikir konservatif dengan alasan non-religius. Jika alasan-alasan religius seperti agama melarang KB, dan menambah anggota laskar jihad, saya tidak bisa membantahnya. Hal itu adalah pilihan ideologis yang tidak bisa ditentang. Sementara, alasan teman saya itu adalah alasan yang menurut saya --egois, patriarkis dan teknis.

Saya pernah mempekerjakan seorang asisten rumah tangga yang curhat kepada saya tentang nasibnya yang kurang beruntung. Ia adalah anak pertama dari empat bersaudara. Semenjak ia sudah bisa mandiri di usia tujuh tahun, ia ditugasi ibunya untuk merawat adik-adiknya yang terentang dari usia lima hingga beberapa bulan. Ia juga membantu ibunya membuat gula jawa dan keranjang dari bambu. Pekerjaan rumah tangga lainnya ia lakukan sementara adik-adiknya hanya bermain dan bersekolah. Asisten saya itu akhirnya tidak lulus sekolah dasar sementara ketiga adiknya yang lain minimal lulus SD (yang perempuan) dan SMA (untuk dua yang laki-laki).

Secara tidak langsung, asisten saya sebagai anak pertama ikut menjadi orangtua bagi adik-adiknya. Tidaklah mengherankan simbok itu punya kepribadian yang lembut dan baik hati, sekaligus peka dan rapuh karena tidak pernah sepenuhnya menjadi anak-anak.

Kali ini tetangga saya. Ia selalu berkantor setelah ia mengantar anak-anaknya. Putra-putrinya berjumlah sembilan. Yang tertua sekarang ini masih di tahun ketiga kuliah, yang terakhir masih belum genap setahun. Alasan punya banyak anak adalah alasan religius. Oke, tidak masalah. Tetapi, lihatlah akibatnya. Ia tidak pernah berkantor dengan tenang sebab ia sibuk antar jemput anak, ditelepon terus menerus oleh istrinya di rumah atau anak-anaknya, dan sering meminjam uang ke sana-sini. Belum lagi jika anak-anaknya ditanya satu per satu: apakah mereka betul-betul bahagia? Saya sangsi, sebab setiap kali si Bapak menerima telepon dari rumah, nada yang keluar adalah nada emosional cenderung ke marah-marah.

Helooo...dengan contoh-contoh di atas, kok masih pengen punya anak empat atau lebih...?

Tidak apa-apa sebetulnya punya anak empat, tetapi ambillah dua di antaranya dari panti asuhan sebagai bukti bahwa keinginan punya anak empat itu tidak didorong oleh keinginan untuk memperbanyak keturunan sendiri, melainkan menyayangi umat manusia umumnya. Bisakah?

Selain itu, pastikan kita sudah kaya terlebih dahulu sebelum memutuskan punya anak empat. Tuhan pasti memberikan rezeki. Tetapi, apakah upaya kita selama ini sudah memberikan sinyal-sinyal rezeki yang sesuai dengan standar kesejahteraan yang dibuat? Ingin punya anak empat dan semua sekolah di institusi kelas satu, tetapi bekerja jadi...pegawai honorer di institusi pemerintahan (sebab gaji buruh sekarang lebih besar daripada honorer di pemerintahan), alamat pasti menuju hutang-hutang. Kita memang harus percaya Tuhan memberi rezeki, tetapi Tuhan juga berfirman kita harus pakai akal pikiran dan berusaha.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline